CINTA
Saat pertama kali melihatnya, Tiara
sudah tahu, bahwa ia pasti akan patah hati.
Sikap Aufa terlampau dingin, pendiam, tidak ramah, dan tertutup. Namun Aufa
mempunyai kharisma tertentu yang membuat Tiara merasa penasaran dan tertarik.
Selama Tiara sekelas dengan Aufa, belum pernah satu kalipun Tiara melihat Aufa
tersenyum. Tiara sendiri mulai tertarik pada Aufa saat awal semester 2 di kelas
1 SMA. Tiara mulanya merasa penasaran dengan sikap Aufa yang tertutup. Namun
lama-kelamaan Tiara jatuh cinta pada Aufa.
“Ti, tolong belanja bahan makanan
dan alat mandi, ya! Kak Yati tidak sempat karena banyak tugas. Kau mau
‘kan?”
Tiara yang memang hanya tinggal
berdua dengan kakak perempuannya, tidak boleh menolak. Sejak dua tahun lalu,
sejak orang tua mereka meninggal, kakaknya lah yang membiayai hidupnya. Karena
itu Tiara tidak ingin mengecewakan kakaknya. Tidak berapa lama kemudian ia tiba
di supermarket, Ketika Tiara kesuliatan mengambil kaleng susu yang memang
letaknya agak tinggi, seseorang membantu mengambilkannya. Saat Tiara akan
mengucapkan terima kasih, ia terkejut saat melihat Aufa. “Aufa?”
Penampilan Aufa sangat simple. Ia hanya mengenakan kaos putih lengan panjang
dan jean biru yang warnanya mulai pudar. Wajahnya biasa saat melihat Tiara,
tanpa ekspresi apa pun. Lalu pandangan Tiara beralih pada wanita di samping
Aufa. Wanita itu tampaknya lebih tua dari Aufa, wajahnya sangat cantik!
Rambutnya hitam legam, lurus, dan panjang melewati bahu. Matanya mengenakan
lensa kontak ungu, hidungnya bAngir, berlesung pipi, dan berkulit kuning
langsat. Ia tersenyum pada Tiara. “Teman Aufa?”
Tiara tersadar. Ia mengangguk dengan
gugup dan tersenyum. “Ya, eh, teman sekelas.”
“Aufa, kok diam saja? Kenalin dong!”
Aufa mengangguk kecil, lalu mengenalkan wanita itu pada Tiara. “ Ini Maya,
kakak tiriku. Maya, ini….”
“Tiara.” Tiara menahan malu. Aku tidak percaya, Aufa tidak kenal aku! Padahal
‘kan sekelas! Setelah berbasa-basi sebentar dengan Maya, Tiara langsung
menyingkir. Saat ini Tiara punya perasaan tidak enak. Feelingnya mengatakan
bahwa Aufa mencintai kakak tirinya yang sudah punya tunangan itu. Tiara
cemburu. Ah, seharusnya aku tidak cemburu pada Maya yang cantik dan baik itu.
Maya benar-benar wanita pujaan setiap pria!
Keesokannya di kelas, Aufa terus menatapnya. Pasti hanya perasaanku saja. Tiara
menggetok pelan kepalanya. Namun saat pulang sekolah, Aufa menahannya di kelas.
“Saat kemarin kau melihat aku dan Maya, apa yang kaupikirkan?” Wajah dan suara
Aufa datar tanpa ekspresi.
“Ng….”
“Katakan saja.”
“Ka…kau terlihat jatuh cinta padanya….”
“Itu benar. Sejak ia menjadi kakak tiriku empat tahun yang lalu, aku sudah
jatuh cinta padanya. Ia benar-benar gadis yang memenuhi kriteria ideal bagi
pria.
Cukup, aku tidak ingin mendengar lagi! “Tapi Kak Maya sudah tunangan. Dan
kurasa usiamu dan usianya jauh berbeda.” Tiara sendiri merasa heran, darimana
ia punya kekuatan untuk mengatakan kalimat yang seharusnya tidak perlu ia
ucapkan.
“Usia kami hanya berbeda lima tahun. Memang Maya sudah tunangan, tapi aku tetap
mencintainya.”
“Kenapa menceritakan hal ini padaku? Bahkan namaku saja kau tidak tahu.”
“Yah, mungkin karena perasaanku mengatakan bahwa kau dan teman-teman cewek di
kelas ini penasaran akan kisah hidupku. Benar tidak?”
Bagaimana ia bisa tahu? Wajah Tiara memerah karena malu.
“Aku ingin mengatakan satu hal lagi, jika ada cewek yang jatuh cinta padaku,
aku hanya bisa menolak. Karena aku hanya mencintai satu orang saja.” Aufa
kemudian meninggalkan Tiara sendirian di kelas.
Tiara sangat kesal dengan sikap dingin Aufa. Namun Tiara baru sadar, tadi Aufa
bicara banyak. Biasanya Aufa hanya bicara seperlunya, atau bungkam sama sekali.
Ini merupakan kemajuan! Tiara benar-benar lupa akan rasa marahnya pada Aufa.
***
Sudah tiga hari Aufa tidak masuk sekolah. Dalam surat pada hari pertama Aufa
tidak masuk, dikatakan bahwa Aufa sakit.
“Jadi, siapa yang mau menjenguk?” tanya Sammy enggan. Ia tidak menyukai Aufa
karena Aufa tidak ramah.
“Kalau aku, sih, lebih baik tes matematika dibanding harus menjenguk Aufa!”
timpal Johan. Teman-teman menyetujui Johan.
“Kalian jangan begitu, dong! Aufa ‘kan teman sekelas kita!” Setelah mengatakan
itu, Tiara merasa wajahnya panas. “Maksudku, itu….”
Andika yang merupakan KM, memegang bahu Tiara dan tersenyum. “Kalau begitu,
kita yang ke rumah Aufa.”
Akhirnya setelah membeli jeruk dan apel merah, Tiara dan Andika menjenguk Aufa.
Maya menyambut mereka dengan ramah. Ia mempersilahkan mereka duduk, lalu
memanggil Aufa.
Ini adalah kedua kalinya Tiara melihat Aufa dalam pakaian bebas. Kali ini Aufa
mengenakan kaos hitam lengan panjang dan jean putih bersih. Rambutnya yang
lurus agak gondrong sedikit acak-acakan. Aufa duduk dengan santai di sofa.
“Kalian menjengukku….”
“Ya, soalnya kau sudah tiga hari tidak masuk sekolah.” Andika tersenyum. “Tadi
buah-buahannya sudah kami berikan pada kakakmu. Ia cantik sekali.”
Aufa menyandarkan tubuhnya ke sofa. Tatapannya mengarah pada Tiara. “Tidak
mirip, ya?”
Andika mengangguk tanpa beban. “Kau sakit apa?”
“Flu.”
Hening sesaat. Lalu Maya muncul dan membawakan sirup jeruk dan cheese cake.
“Silahkan.”
Tiara dan Andika melahap kue sampai tidak bersisa lalu meminum sirupnya.
“Kalian lapar, ya?” Aufa menahan senyum. Tiara melihatnya. Ah, sungguh, Aufa
sangat tampan saat tersenyum! “Mau lagi kuenya?”
“Tidak, terima kasih.” tolak Tiara halus. “Kau sudah baikan, Fa?”
“Sudah, soalnya Maya merawatku.”
“Maya? Kau hanya menyebut nama pada Kakakmu? Itu ‘kan tidak sopan.” Andika
mengerutkan alis tidak setuju.
“Maya itu kakak tiriku. Memangnya Tia tidak cerita?” Aufa sedikit mengerutkan
kening. “Kau tidak cerita, Tia?”
Tiara menggeleng. Ia menunduk. Aku bukan cewek penggosip! Aku hanya cewek yang
mencintaimu!
Setelah beberapa saat diam saja (karena yang punya rumah cuek saja ada tamu),
akhirnya Tiara dan Andika pamitan.
“Cuek sekali Aufa…ada teman sekelas datang malah dicuekin….” ujar Andika.
Tiara hanya mengangkat bahu. Apa lagi yang diharapkan dari cowok yang dingin
dan tidak ramah itu?
Malam Minggu ini, Tiara harus belanja lagi karena kakaknya kerja lembur. Siapa
tahu bertemu Aufa di supermarket! Tapi Tiara harus kecewa karena Aufa tidak
sedang belanja di sana. Tapi ketika akan menyetop bus, tiba-tiba Soluna metalik
menghampirinya. Aufa membuka kaca depan. “Kuantar pulang?”
Tiara sangat terkejut karena Aufa
menawarkan kebaikan hatinya yang tidak disangka-sangka. Tiara buru-buru
mengangguk lalu masuk ke mobil. “Dari mana?”
“Mengantar Maya ke rumah tunangannya.” jawabnya tenang tanpa dan datar, seperti
biasa. “Kenapa?”
“Tidak….”
“Belanja? Kau hebat, mandiri.”
Tiara menengok ke arah Aufa dengan cepat sampai lehernya terasa agak sakit.
Tiara melihat senyum menghiasi wajah Aufa! Jantungnya langsung berdebar
kencang. “Kau lebih baik tersenyum, daripada cemberut terus.”
Aufa terbahak-bahak. Ia menyisir poninya ke belakang. Ia memandang lurus ke
jalan. “Kau ini cewek yang blak-blakan, ya?”
“Tidak juga.” Tiara menunduk.
“Cemberut…ini bawaan dari Ayahku. Oya, rumahmu di jalan Elang nomor 117 ‘kan?”
Tiara mengiyakan. “Kok tahu?”
“Aku tahu karena aku melihat di agenda kelas.” jelas Aufa.
Tiara menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Tiara benar-benar jatuh cinta! Ia
tidak tahu harus berbuat apa untuk melenyapkan perasaannya itu. Ternyata
meskipun tidak ramah, dingin, dan tertutup, Aufa masih memiliki kebaikan….
***
Hari ini Tiara berdandan rapi dan mengenakan kebaya. Ia akan ke pernikahan
Maya. Aufa mengundang semua teman sekelasnya. Seperti janjinya, Aufa menjemput
Tiara. Saat Tiara membukakan pintu depan, Aufa tampak tertegun. Tiara merasa
hatinya berbunga-bunga tapi sekaligus malu akan tatapan Aufa. “Kau terlihat
asing, Tia.”
“Apa itu pujian?” Tiara berjalan perlahan ke mobil karena susah jalan dengan
kebaya dan hak tinggi. Aufa menyalakan AC agar Tiara tidak kepanasan.
“Kau tentu sangat sedih malam ini karena wanita yang kaucintai bersama pria
lain….”
“Itu sudah takdir.” Aufa tersenyum pada Tiara. “Seharusnya aku mencari cinta
yang lain….”
“Aku bersedia!” ujar Tiara spontan. Lalu ia buru-buru menutup mulutnya.
“Lupakan yang barusan, aku hanya bercanda.” Tiara memarahi dirinya. Apa-apaan
sih tadi? Ia merasa wajahnya memanas.
Saat pesta pernikahan, untuk melupakan rasa patah hatinya, Tiara makan dengan
sepuasnya. Maya sangat cantik dan baik. Dan meskipun kini sudah menikah, Maya
tidak akan pernah hilang dari hati Aufa! Aufa mungkin akan mencari cinta yang
lain hanya untuk pelarian. Kenapa Aufa begitu bodoh? Kenapa tidak mau
memerhatikan sekeliling? Kenapa hanya melihat Maya? Tiara mengambil lontong dan
tiga tusuk sate padang beserta bumbunya. Ia memakannya dengan lahap.
“Kau ini stress, rakus, atau lapar, Er?” Andika ikut mengambil lontong dan 4
tusuk sate. Ia cekikikan.
Tiara melirik piring Andika. “Kalau kau, rakus.”
Aufa menghampirinya. “Cari Angin, yuk?”
“Aku masih mau makan.” dalih Tiara sambil mengambil paha ayam bakar yang besar.
Dan itu membuat Aufa terbahak. Andika yang melihatnya terbengong-bengong. Wah,
Aufa tertawa terbahak-bahak! Bagaimana bisa?
Tiara merasa konyol karena ditertawakan Aufa. Tapi ia cuek dan tetap melahap
ayamnya.
“Mau dibungkus ke rumah juga boleh, nanti aku suruh pelayan membungkusnya
untukmu. Sekarang temani aku cari udara segar.” Aufa memasukkan kedua tangannya
ke saku celana panjangnya yang berwarna hitam, serasi dengan jas dan rompinya.
Akhirnya Tiara mengangguk. Aufa membawanya ke atap gedung. Mereka dapat melihat
bulan purnama yang tampak ditemani berjuta bintang bertebaran di lAngit malam.
“LAngit malam memang indah.” Aufa memandAngi lAngit. “Aku sungguh tidak suka
melihat Maya bersama John.” Aufa berjalan ke pagar tembok yang mengelilingi
atap gedung, lalu duduk. Kini ia memandAngi lampu-lampu jalan, gedung-gedung,
dan kendaraan di bawahnya yang bagai intan dan permata. Tiara bertopang dagu
sambil melihat ke keindahan di bawahnya. Tinggi sekali!
“Ke sini untuk bunuh diri?”
Aufa tertawa. “Yang benar saja! Kurasa…sudah waktunya aku melihat dunia yang
lain.”
“Syukurlah.”
“Mau membantuku?”
“Kita ‘kan teman, tentu saja aku akan membantumu.”
“Kau ini baik sekali. Padahal aku tidak ramah. Waktu kau dan Andika menjenguk,
aku tidak memedulikan kalian. Tapi kau tidak berubah, tetap menyapaku. Kenapa?”
“Itu ‘kan kewajiban.”
Aufa melompat turun dari pagar tembok. “Ke bawah, yuk.” Aufa menarik tangan Tiara
dan menggandengnya. Tiara terkejut karena Aufa menggandengnya. Namun ia tidak
bisa terkejut berlama-lama karena Aufa terus menariknya dan menuruni tangga ke
lantai 5 dari lantai 12 ini. Tapi kebaya Tiara mengganggunya sehingga ia
kehilangan keseimbangan dan jatuh menabrak Aufa. Aufa menangkapnya. Aufa
membantunya berdiri, namun ia tidak segera melepaskan Tiara. Ia menatap mata
Tiara lembut! Tiara menjadi kegeeran ditatap dengan lembut. “ Maaf, aku lupa
kalau kau mengenakan kebaya.” Aufa tersenyum. Lalu ia menggenggam tangan Tiara
dan membawanya ke lantai 5 dengan lebih perlahan. Tiara merasa dirinya melayang
diperlakukan seperti itu.
***
Dengan langkah gontai Tiara berjalan ke ruang tamu. Siapa, sih, sore-sore
begini datang bertamu? Tiara terpaku di tempat saat melihat Aufa berdiri di
hadapannya. Tadinya Tiara bermaksud menutup pintu dan mengusir Aufa, tapi Aufa
menahan pintu dengan kakinya.
“Kok gitu?”
“Ngapain ke sini?”
“Kau marah padaku? Kenapa?”
“Ngapain ke sini?” Tiara mengulAngi pertanyaannya.
“Aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Tapi sepertinya kau sedang tidak mood,
jadi….” Aufa berbalik tapi kemudian Tiara menarik kemeja cokelatnya.
Tiara memegang dahinya dengan malu. “Tunggu, aku ikut.” Setelah mempersilahkan
Aufa duduk di bangku teras, Tiara dengan cepat berganti baju dan sedikit
mengenakan bedak. “Aku siap. Mau ke mana?”
Aufa tertawa. “Kau aneh.” Ia memegAngi perutnya, masih tertawa. “Sejak kenal
kau, aku selalu tertawa lepas. Orang tuaku dan Maya sampai heran melihatku.”
Tiara pura-pura tidak mendengar.
“Kita ke café Soul. Aufa menyalakan mobil sambil masih tertawa. “Kau cewek
aneh. Tadi marah, cemberut, eh, langsung ceria….”
Tiara merah padam. “Itu ‘kan gara-gara kau.”
“Aku?” Aufa membelokkan mobil ke tikungan gang sambil mendengar penjelasan
Tiara. Setelah itu ia mengangguk-angguk. “Kejadian tiga hari yang lalu, ya. Aku
tidak mencium bibirnya. Kau hanya melihat punggungku ‘kan? Aku hanya mencium
pipi Maya. Perasaanku pada Maya sudah berkurang. Kau cemburu?”
Tiara menggigit bibirnya. “Tidak.”
“Lalu kenapa marah?”
“Yah….”
“Aku suka Ti.”
“Oh.” Tiara memandang ke jalanan. “Apa?”
“Aku suka padamu. Perasaanku pada Maya berkurang gara-gara kau.”
“Sebagai teman?”
“Kalau hanya sebagai teman, aku takkan mengajakmu jalan-jalan.”
“Jadi….” Tiara menatap Aufa malu.
Aufa hanya tersenyum. Tapi itu saja sudah cukup bagi Tiara. Ia tidak perlu
kata-kata lagi karena senyuman Aufa berarti suara Aufa. Suara hati Aufa yang
terdalam.
***
“Aufa, lagi nonton bioskop kok malah tidur?”
“Maaf, ngantuk, sih….”
“Aufa…giliran nonton action kau semangat, eh kalau nonton film roman malah
mengantuk!” Tiara protes sambil berbisik. Ia kesal. Namun tiba-tiba Aufa
mengecup pipinya dan tersenyum sambil meleletkan lidahnya.
“Jangan marah, dong. Aku pura-pura tidur, tahu.”
“Huuh, Aufa nyebelin!” Tiara memukul bahu Aufa.
“Sakit, dong. Nanti kucium lagi, nih.” Aufa nyengir.
Tiara langsung berbalik dan menonton film lagi. Jantungnya berdegup kencang dan
membuatnya jadi tidak konsen menonton. Sementara Aufa menahan senyum di
sebelahnya
****
FIFI, TETAPLAH JADI MENTARI
Aku benci kakak. Aku sangat membenci
kakakku. Mengingat wajahnya saja, amarah langsung terpercik di hatiku. Mataku
langsung terasa perih. Karena amarah yang kerap kali membuatku menAngis. Aku
melihat ke bawah, genangan darah mengalir dari kakiku. Karena bingkai yang aku
lemparkan, hancur berkeping-keping. Menyisakan sisa kepingan kaca yang
berbahaya yang dengan mudahnya aku injak agar segera hancur menjadi debu.
***
Hari ini mendung. Aku berjalan dengan langkah gontai menuju gerbang sekolah.
Seratus meter lagi. Dan aku harus kembali menghadapi bayang-bayang kakak yang
seolah-olah terus mengikutiku. Dimanapun, kapanpun. Aku merasa, bayangan itu
selalu ada. Menghantuiku. Aku menatap langit. Gelap. Kelabu. Seperti suasana
hatiku saat ini. Namun hal itu sedikit menghiburku. Bukankah tandanya alam
bersimpati padaku dengan menyesuaikan cuaca hari ini?
Tetesan air jatuh menimpa kepalaku.
Satu tetes. Dua tetes. Tiga tetes. Aku menghitung jumlah butiran air di telapak
tanganku. Kemudian menengadah melihat langit. Begitu kelabu, hampir hitam.
Tetesan air mulai membasahi wajahku. Di sekitarku, sudah banyak orang yang
berlari guna menghindari hujan. Namun, aku diam. Memilih untuk berjalan
lambat-lambat. Berharap tetesan air mataku dapat membaur dengan tetesan hujan.
Tepat saat bel berbunyi, aku sampai di dalam sekolah. Suasana begitu ramai.
Hujan, selalu membuat banyak orang tepat waktu. Namun, kakak begitu menyukai
hujan. Kakak menyukai aroma udara setelah hujan. Karena itu, aku benci. Aku
benci hujan. Aku membenci apapun yang disukai kakak.
Aku melihat keadaan. Semua orang tampak basah, tapi tidak ada yang sepenuhnya
basah seperti aku. Aku melihat pantulan diriku di pintu kaca sekolah.
Menyedihkan. Seorang anak perempuan kurus dengan muka pucat pasi. Pakaiannya
basah kuyup pula. Mulai dari ujung kepala, sampai ke ujung kaki. Tiba-tiba,
rasa sakit menghantam kepalaku. Perlahan, pandanganku mulai mengabur.
Titik-titik hitam menari-nari di pandanganku.
***
Segalanya tampak putih. Dimana ini? Aku segera bangun, tapi lagi-lagi rasa
sakit seolah-olah mencengkram kepalaku, hingga aku terjatuh lagi. Aku meneliti
keadaan. Bau obat, begitu kental di penciumanku. Perutku terasa teraduk-aduk.
Bau ini, selalu mengingatkanku akan kakak. Amarah segera terbit di kepalaku.
Tanpa menghiraukan rasa sakit, aku berlari keluar ruangan, dan jatuh tersungkur
di lorong. Aku hanya samar-samar merasakan ada seseorang yang memapahku.
Membantuku untuk duduk tegak.
Ternyata Ibu Widya. Dokter di UKS sekolah. Ibu Widya tidak menyuruhku untuk
kembali ke dalam UKS. Beliau sepertinya menyadari aku yang alergi akan aroma
rumah sakit. Beliau tidak berkata apa-apa. Hanya mengantarku menuju kamar
mandi, dan membantuku mengganti seragamku yang sudah basah kuyup.
Aku beristirahat di ruang BK. Sepertinya Bu Widya sengaja meminta kepada guru
BK agar ruangan itu kosong. Karena ruangan yang biasanya ramai itu, kini terasa
lengang. Aku duduk berhadapan dengan Bu Widya. Aku bisa merasakan tatapannya
yang tertuju padaku. Seperti berupaya mempelajari jiwaku. Sengaja aku
berpura-pura sibuk memperhatikan langit di luar yang masih setia menumpahkan
tAngisnya.
Bu Widya tiba-tiba beranjak pergi menuju lemari yang memuat belasan foto.
Beliau mengambil satu, dan meletakkannya di hadapanku. Aku hanya bisa terpaku.
Menatap foto itu, amarah kembali terbit dalam dadaku. Bayang-bayang merah
seolah mengaburkan penglihatanku. Tidak salah lagi, itu foto kakak. Sedang
tertawa bahagia, mengenakan jas dokter milik Ibu Widya. Bertingkah seolah-olah
dialah dokternya. Sementara di latar foto, tampaklah aku yang sedang
berpura-pura berbaring di tempat tidur.
Prang! Aku melempar bingkai itu, tanpa berpikir apa-apa. Bingkai itu hancur
berkeping-keping. Menyisakan kepingan kaca dan kayu, dengan foto yang tersobek.
Ibu Widya hanya menghela napas. Kemudian membersihkan keributan kecil yang aku
perbuat tanpa berkata apapun. Barulah aku sadar, Bu Widya hanya ingin
memperbaiki hubunganku dengan kakak.
Tetesan air mata kembali terbit di wajahku. Kilasan kenangan akan kakak seolah
berebut memasuki pikiranku. Kilas balik itu seolah terasa nyata. Begitu nyata,
sampai aku merasakan dekapan kakak di sekelilingku. Begitu nyata, seolah aku
mendengar setiap omelannya apabila aku bertingkah ceroboh. Kupejamkan mataku.
Namun, hal itu semakin memperparah keadaan. Kenangan itu terlalu nyata. Sakit.
Sakit sekali. Amarah, benci, dan rindu yang semakin berkecamuk dalam kepalaku.
Aku meremas kepalaku kuat-kuat. Aku sudah tidak tahan! Aku berlari keluar.
Menembus hujan yang kian angis. Aku harus lari, terus berlari. Pergi dari
kenangan yang terasa semakin nyata. Aku memejamkan mataku kuat-kuat. Berharap
kenangan itu pergi. Ya, kenangan itu pergi. Kalah oleh rasa sakit yang tidak
terperi di kepalaku. Perlahan, membuai kesadaranku kian jauh.
***
Aku melihat kakak melambai kepadaku dari seberang jalan. Wajahnya seperti
biasa, dipenuhi keceriaan yang berlebihan. Seolah-olah dunia ini tidak pernah
kejam padanya. Seolah-olah seluruh kehidupannya telah sempurna. Kakak melambai
lagi kepadaku. Seperti hendak mengatakan sesuatu. Namun, aku tidak mendengar
apapun. Kemudian, raut wajah kakak berubah. Mengapa ekspresinya menjadi sedih?
Seolah beban dunia berada di pundaknya. Dimana keceriaannya? Kebahagiannya?
Sejenak aku melupakan amarahku. Aku ingin berada di sisinya. Ingin menghapus
kesedihannya. Aku mulai melangkahkan kakiku menyebrangi jalan. Sebisa mungkin
aku ingin berada di dekat kakak. Namun, raut wajah kakak berubah lagi. Kakak
tersenyum. Kehangatan menjalar di tubuhku. Ah, betapa aku merindukan senyumnya.
Penuh kehangatan. Namun, amarah itu kembali terpercik. Pandanganku kembali
mengabur.
“fifi itu kuat, kan?” Sayup-sayup aku mendengar suara kakak. “fifi punya banyak
teman, kan? Fifi harus kuat. Karena kakak yakin, fifi menyimpan kehangatan
mentari di dalam diri fifi...”
Ah, ucapan kakak barusan membuat mataku kembali basah. Aku tidak kuat. Aku
tidak tegar. Aku lemah. Aku tidak sanggup menanggung kepedihan ini jika hanya
seorang diri. Aku kembali menatap kakak. Kakak tersenyum lagi. Namun dengan
senyuman yang berbeda. Senyuman penuh tekad. Senyuman yang seolah mampu
mengalahkan dunia.
“Saat fifi sendiri, ketahuilah. Ada begitu banyak tangan yang mendorong fifi
dari belakang. Ada begitu banyak senyuman yang diperuntukkan bagi fifi. Fifi itu seperti mentari, memancarkan
kehangatan...” Ujar kakak dengan wajah penuh tekad.
Aku terpaku. Ingatanku berlarian ke masa itu. Saat-saat terakhir kami berdua.
Kenangan yang susah payah aku kubur di dalam palung terdalam ingatanku,
menyeruak begitu saja ke permukaan. Kenangan itu... Reka ulang yang sangat
jelas. Terpampang di depan mataku.
***
Kami adalah dua bersaudara yang hanya terpisahkan dua tahun. Saat itu aku kelas
10, sementara kakak kelas 12. Kami selalu bersama. Sejak kecil, hanya kakak
seoranglah yang selalu menarik tanganku disaat aku terjatuh. Hanya kakak
seoranglah yang selalu mendukungku, dan menyelamatkanku. Karena aku terlahir
dengan fisik yang lemah, aku jarang sekali bermain dengan teman-temanku di
luar. Hanya kakak, temanku satu-satunya.
Saat itu, hari cerah. Juga hari terakhir kakak di pekan ujian nasional.
Sepulang sekolah, kakak mengajakku pergi. “Ayo kita menikmati hari yang cerah
ini! Sayang kan jika hanya dihabiskan di dalam rumah,” ucap kakak sambil
melemparkan senyum jahilnya kepadaku. Awalnya aku tidak mau. Suasana hatiku
sedang kacau. Aku memikirkan kakak yang akan pergi meninggalkan rumah untuk
kuliah sebentar lagi. Namun, seperti biasa. Kakakku itu pemaksa yang ulung.
Akhirnya aku menganggukkan kepalaku.
Semuanya berjalan dengan cepat. Seolah ada seseorang yang menekan tombol
fastforward. Terlalu klise. Kami mengalami kecelakaan. Seharusnya, akulah yang
pergi. Seharusnya, akulah yang tidak akan pernah lulus dari SMA. Akulah yang
tidak bisa membuka sabuk pengamanku sendiri. Namun, kakakku adalah orang
terbodoh yang pernah aku kenal. Tidakkah dia tahu aku menyayanginya? Tidakkah
dia tahu bahwa aku rela memberikannya apapun? Bahkan termasuk nyawaku sekalipun.
Aku menyayAnginya. Lebih dari apapun. Namun kakakku yang bodoh itu mengorbankan
dirinya. Menyelamatkanku di saat terakhir. Melindungi aku dari ledakan mobil
dengan tubuhnya sendiri. Walaupun kakak bisa saja pergi meninggalkan aku yang
terjebak dengan sabuk pengamanku sendiri. Aku masih ingat dengan jelas. Ucapan
terakhir kakak. “Tetaplah hidup, Fifi sayang...” Aku menyaksikan bagaimana
cahaya di mata kakak yang mulai meredup. Senyuman terakhirnya, yang menyiratkan
kemenangan karena merasa telah menyelamatkanku.
Sampai akhirnya kesadaranku pun habis. Hal terakhir yang aku ingat hanyalah
rasa panas. Yang menjalar di dalam tubuhku. Begitu panas.
***
Kubuka mataku. Lagi-lagi putih, tapi
kali ini aku tidak mencium aroma rumah sakit. Karena rumah sakit, hanya
mengingatkanku akan kakak. Mimpinya untuk menjadi dokter, hanyalah sebatas
mimpi belaka. Aku membencinya. Karena dia telah membuang nyawanya hanya demi
anak lemah sepertiku. Karena meninggalkan papa mama yang sangat menyayAngi dan
bangga padanya.
Aku memandAngi keadaan di sekitarku. Bukan sekolah. Bukan rumah sakit. Namun,
terasa akrab. Aku kembali menelaah isi kamar itu. Mataku terasa panas. Ini
kamar kakak. Tidak salah lagi. Kamar yang sudah satu setengah tahun tidak
kukunjungi. Amarah kembali terpercik dalam diriku. Teriakan rasanya tidak
sanggup mengeluarkan seluruh amarahku. Aku menendang segala benda yang berada
di atas tempat tidur. Sampai mataku tertumbuk pada sehelai kertas putih, yang
terlipat di atas meja kecil di samping tempat tidur.
Aku menarik kertas itu perlahan. Tulisan di awal surat itu... Aku terkesiap
melihatnya. Untuk seseorang... Tidak salah lagi, ini tulisan kakak. Aku ingin
segera membuang kertas itu. Namun rupanya, rinduku mengalahkan segala amarahku
akan kakak.
Hari ini, mendung datang di kehidupanku
yang selalu cerah. Aku menyaksikan adik kecilku terbaring lemah dengan
perban-perban yang menghiasi tubuhnya. Walaupun saat ini kondisiku jauh lebih
buruk darinya, setidaknya mataku tidak berhiaskan perban seperti fifiku
tersayang. Aku gagal. Aku telah gagal menyelamatkan fifiku tersayang. Aku telah
merenggut cahaya dari matanya. Aku telah membuatnya kehilangan masa depannya.
Perbuatanku yang terakhir, rupanya tidak cukup untuk melindunginya. Maka dari
itu, aku berharap perbuatanku kali ini dapat membantunya. Aku berharap, fifiku
akan menjadi pribadi yang kerap tersenyum. Aku harap, mendung akan segera pupus
dari wajah cantiknya. Akan aku persembahkan kedua mataku. Aku mungkin telah
tiada, tapi aku tetap hidup. Lewat mata yang akan menjadi milik fifiku
tersayang.
fifi cantik, tetaplah hidup. Berjuanglah... Karena fifi adalah mentari bagi
kakak, juga bagi semua orang...
Bahkan air mata tidak cukup untuk meringankan kesedihan hebat yang melandaku.
Dadaku terasa sesak. Sakit sekali. Aku memegang kedua mataku. Sampai saat ini,
aku sama sekali tidak tahu. Yang aku tahu hanyalah kakak yang tiada setelah
mengucapkan kalimat terakhirnya padaku. Kakak yang dengan bodohnya menantang
maut dengan melindungiku. Karena mama mengatakan bahwa mataku memang sedikit
bermasalah, tapi akan segera sembuh, ucapnya saat aku terbangun dari koma
dengan mata tertutup perban.
Wajahku berlinang air mata, rasanya aku tidak sanggup menahan tAngisan ini. Aku
berjalan menuju cermin. Menatap lekat kedua mata ini. Kupejamkan kedua mataku,
dan wajah kakak muncul dalam kepalaku. Tersenyum seolah mengucapkan
terimakasih. Senyuman yang begitu hangat. Yang memupuskan semua amarah.
Menggantinya dengan kehangatan, dengan kekuatan, dengan tekad.
Tok tok.. Ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Pintu kamar terbuka, menampakkan
mama dan papa. Aku memandang mereka satu persatu. Teringat betapa aku terlalu
sering mengacuhkan mereka semenjak kakak pergi. Betapa aku menumpahkan amarahku
akan kakak kepada mereka. Namun, mereka selalu ada. Sadarlah aku, bahwa aku
tidak sendiri. Aku berlari menuju mama dan papa. Memeluk keduanya, merasakan
kehangatan yang sudah lama tidak aku rasakan
KETULUSAN
TIARA
Disebuah panti asuhan di Ibu kota,
ada seorang gadis cantik bernama Tiara,,,
Sejak kecil dia harus di tinggal dipanti karena 17 tahun lalu diditelantarkan
didepan pintu panti asuhan “Kasih Bunda” itu,,,
Tiara atau biasa disebut ara, adalah sosok gadis cantik dan manis, sikap dan
prilakunya begitu baik, dia gadis yang ramah, sopan, lemah lembut, penyayang,
Ara adalah sosok gadis yang ceria, meski dia tak mengetahui keberadaan orang
tuanya dia tak pernah terlihat sedih dengan keadaannya,,,
Suatu ketika ada 1 keluarga yang ingin mengadopsi Ara, karena mereka merasa
dekat dengan Ara,,,
“bunda, Ara pasti kangen sama bunda juga yang lainnya” ucap Ara saat berpamitan
dengan Bundanya diPanti
“Ara, kita juga pasti kangen tapi Tuhan sudah menyiapkan rencana buat Ara” ucap
bunda
“Arakan pernah bilang kalau Ara pengen punya keluarga” lanjut Bunda
“tapi Ara kan udah punya Bunda dan adik2 disini” ucap Ara sedih
“Ara kamu enggak boleh donk kayak gini, Ara yang bunda kenal dulu ceria dan
enggak cengeng” ucap bunda
Setelah cukup, akhirnya Ara ikut
dengan keluarga barunya , keluarga Bramantyo,,,
“ayo sayang masuk” ucap Ibu Bramantyo, Lusi
Tiara hanya tersenyum dan mengikuti langkah kedua orang tua barunya,,,
“Ara ini kamar kamu sayank” ucap bu Lusi yang menunjukan kamar untuk Tiara
“makasih bu” ucap Tiara masih canggung
“Ara kok panggil bu sih, kamu panggil kita papa sama mama” ucap pak bramantyo
“iya pa ma” ucap Tiara tersenyum
“ya udah Ara istirahat aja, nanti mama kenalkan sama saudara kamu ya” ucap bu
Lusi
Tiara hanya mengangguk
Malam harinya semua tengah berkumpul dimeja makan, termasuk Tiara
“bi tolong panggilkan Mutia ya” ucap pak bramantyo
“baik tuan” ucap bibi
“Non, non Tia ditunggu ibu sama bapak dimeja makan” ucap bibi
“Iya bi, sebentar” teriak Mutia
Tak lama kemudian, seorang gadis dengan memakai baju yang tergolong sexy
menuruni anak tangga dengan badan meliuk2 bak seorang model,,,
“malem ma pa” sapa Mutia mencium kedua pipi orang tuannya
“malam sayank” balas bu Lusi
“siapa dia? Kenapa dia duduk disini?” tanya mutia menatap tajam kearah Tiara
“kenalin sayank ini Tiara, disaudara baru kamu” ucap pak Bramantyo
“What? Gadis kampung ini jadi saudara Tia? Enggak salah” ucap Mutia mengejek
“Mutia jaga bicara kamu” seru pak bramantyo
“papa apa2an sih? Ngapain juga bawa gadis kampung kerumah kita” ucap Mutia
sombong
“cukup Tia, dia sekarang jadi adik kamu jadi jaga bicara kamu” seru bu Lusi
“iuuhh, sorry pa gak level banget sih” ucap Mutia mengejek dan langsung pergi
“Mutia,,,Mutia” teriak pak bramantyo namun tak dihiraukan oleh Mutia
“pa ma, apa yang dikatakan kak mutia ada benarnya” ucap Tiara yang mendongakan
wajahnya karena sebelumnya dia hanya menunduk
“ara hanya gadis kampung yang enggak pantas ada dirumah sebesar dan semewah
ini” lanjut ara
“sayank kamu anak papa dan mama, jadi kamu pantas disini” ucap pak bramantyo
mantap
***
Sudah hampir 1 bulan Tiara menyandang status anak keluarga Bramantyo..
Selama itu juga dia selalu mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari
saudaranya Mutia,,,
Sikap mutia tak pernah berubah malah sikapnya terhadap Tiara semakin menjadi,
meski sudah diperingatkan berkali2 oleh kedua orang tuannya tak pernah didengar
oleh Mutia,,,
Seperti pagi ini, saat semua dimeja makan dan seperti biasa Mutia tak pernah
mau dekat dengan Tiara,,,
“pa ma Tia berangkat dulu ya” pamit Mutia
“Tia sekalian kamu bareng sama Ara” seru pak Bramantyo
“Papa” ucap mutia protes
“udah jangan banyak protes, Ara kamu bareng tia saja kekampusnya” ucap pak
bramantyo
“ara bisa berangkat sendiri kok pa, biar kak tia berangkat dulu aja” ucap Tiara
manis
“bagus deh kalau loe nyadar, papa denger sendirikan dia bisa berangkat sendiri”
ucap Mutia
“enggak, ara kamu bareng sama mutia” ucap pak bramantyo
“iihh ngeselin banget sih” gerutu Mutia
“ya udah yuk berangkat jangan lelet” ucap Mutia kesal
“pa ma ara berangkat ya” pamit tiara
“iya sayank, hati2” pesan bu Lusi
“udah deh ayo cepetan, lelet banget sih loe” teriak mutia dari dalam mobil
“ma’af kak” ucap ara
Saat baru beberapa menit mobil mutia berjalan tiba2 berhenti ditengah jalan,,,
“lho kok berhenti kak?” tanya Tiara heran
“gue kan sudah bilang kalau gue enggak mau bareng sama loe” ucap mutia menatap
tajam ara
“so loe turun disini” bentak Mutia
Tanpa banyak jawab, akhirnya Tiara turun dari mobil Mutia,,,
Seperti itulah setiap hari yang dilakukan Mutia, berangkat dari rumah bareng
pasti ujung2nya diturunkan ditengah jalan,,,
****
Suatu ketika disaat bu Lusi masuk kedalam kamar Tiara dia menemukan sebuah
Liontin,,,
“Liontin ini” ucap bu Lusi tak percaya
“Papa,,, papa” teriak bu Lusi keluar dari kamar Tiara
“kenapa ma?” tanya pak Bramantyo menghampiri sang istri
“pa lihat liontin ini” ucap bu lusi memperlihatkan liontin yang ia temukan
“bukannya ini Liontin,,,,,” ucap pak bramantyo menggantungkan kata2nya
“iya pa ini Liontin Tiara anak kita yang hilang 18 tahun lalu” ucap bu Lusi
“jadi Tiara adalah Tiara kita?” tanya pak Bramantyo
Bu lusi hanya mengangguk
FLASH BACK,,,
Disuatu malam ditengah hujan yang begitu lebat, seorang wanita tengah
memperjuangkan nyawa melahirkan anaknya,,,
“oek...oek...oek” suara meramaikan malam itu
“selamat bu, putri anda selamat” ucap seorang bidan sambil menggendong seorang
bayi cantik
“kamu begitu cantik sayank” ucap bu Lusi
“namanya siapa putri kecil kita ini?” tanya seorang laki2 yng tak lain adalah pak
bramantyo
“Tiara, Tiara Keyzha Bramantyo” ucap bu Lusi sambil mengalungkan sebuah liontin
dileher sang bayi
Ditengah malam, disaat semua tengah terlelap dan disaat Bayi kecil Tiara
tertidur disebuah Box baby,,, tiba2 seorang suster datang dan langsung membawanya
lari,,,
Tiara kecil diletakan didepan pintu sebuah panti asuhan oleh suster tersebut,,,
Semenjak itulah Tiara harus terpisah dari keluarganya, hanya karena orang yang
tak bertanggung jawab karena ingin menghancurkan kelurga Bramantyo,
Seorang suster yang menjadi suruhan salah satu saingan bisnis pak bramantyo...
***
“sayank kamu anak kandung papa dan mama” ucap bu Lusi memeluk Tiara
Saat itu pak bramantyo dan sang istri menemui tiara yang ada diruang tengah
“enggak,,, enggak mungkin” seru Mutia yang mendengar semuanya
“Tia, Ara ini adik kandung kamu yang telah hilang sayank” ucap pak Bramntyo
“enggak pa, tia enggak mau punya adik kayak dia” ucap Mutia
“ka kenapa kak tia begitu benci dengan Ara?” tanya Tiara yang mulai
memberanikan dirinya
“kenapa? Loe masih tanya kenapa?” ucap Mutia marah
“loe tahu karena kehadiran loe dirumah ini papa sama mama lebih sayang sama
loe” bentak Mutia
“Tia kamu ngomong apa sayank? Papa sama mama sayang sama kalian berdua” ucap bu
Lusi
“kak ma’afin ara kalau emang Ara udah buat kak Tia kehilangan kasih sayang papa
sama mama” ucap Ara yang akhirnya meneteskan Air matany
“halah enggak perlu deh loe nAngis, gue udah benci sama loe” bentak Mutia
“Mutia cukup” bentak pak Bramantyo
“kenapa? Papa mau marah sama tia?” tanya mutia menAngis
“papa sama mama berubah setelah kehadiran Tiara disini” ucap Mutia
“sayank papa sama mama enggak pernah berubah, kita tetep sayang sama Mutia”
ucap bu Lusi
“papa sama mama lebih sayang Tiara dari pada Mutia” ucap Mutia dalam tAngisnya
“Ka ma’afin Ara, Ara enggak bermaksud buat.....” ucap Tiara terpotong
“halah loe enggak usah sok baik didepan gue” bentak Mutia
“denger lo Tiara, sampai kapanpun gue akan benci sama loe” bentak Mutia menatap
Tiara
“Mutia,,, (PLAAAK)” sbuah tamparan mendarat dipipi mulus Mutia
“papa” seru Bu Lusi
“seumur2 baru kali ini Tia ditampar oleh papa, hanya keran dia” ucap Mutia
menunjuk Tiara
“Tiara adik kandung kamu Tia, apa kamu harus seperti itu” bentak pak Bramantyo
“Puas kamu Tiara? Puas kamu dibela mati2an sama papa” ucap Mutia tak terima
“kak” ucap Tiara sedih
“Cukup,,, aku bukan kaka kamu” bentak Mutia
“Mutia” seru pak bramantyo dan hendak menampar kembali Mutia
“apa pa? Papa mau nampar Tia lagi? Iya” teriak mutia
“Mutia benci sama kalian semua” ucap Mutia dan langsung berlari keluar
“mutia tunggu” teriak bu Lusi
“kak Tia” panggil Tiara mengejar Mutia
“aku benci papa, aku benci mama, aku benci kalian semua” ucap mutia sambil
berlari
“kak tunggu” panggil Tiara yang masih mengejar Mutia diikuti oleh bu Lusi dan
Pak Bramantyo
Saat mutia masih berlari dan menyebrang jalan, tiba2 ada sebuah mobil melintas
dan,,,
“Kak Tia awaaaaassss” teriak Tiara
“aaaaaaaa” jerit Mutia dan langsung terlempar jauh
“Mutiiiaaa” teriak bu Lusi dan pak bramantyo
Tubuh mutia tergeletak dengan berlumuran darah
“kak bangun ka” ucap Tiara menAngis
“sayank bangun” ucap bu Lusi
Mutia pun langsung dilarikan dirumah sakit,,,
Dengan cepat beberapa dokter dan suster menangani Mutia,,,
1jam,,,
2jam,,,
3jam,,,
4jam,,, dokter tak kunjung keluar, kedua orang tua Mutia dan juga Tiara dengan
cemas menunggu didepan ruang UGD,,,
“ya Tuhan, selamatkan kak Mutia” ucap Tiara menAngis
“sayank kamu yang kuat ya” ucap pak bramantyo menenangkan putri bungsunya
“pa ini salah Ara, coba Ara enggak hadir ditengah2 kalian” ucap Tiara
“sssstttt Ara anak papa, Ara enggak boleh ngomong kayak gitu” ucap pak
Bramantyo
“tapi pa,,,,,” ucap Tiara terpotong
“Ara ini semua sudah kehendak Tuhan, ada hikmah dibalik musibah ini” ucap pak
bramantyo
“iya sayank, Tuhan sudah menyediakan rencana yang terindah buat keluarga kita”
sambung bu Lusi
Tak lama kemudian pintu UGD terbuka, seorang dokter keluarg dari UGD,,,
“dok gimana keadaan putri saya?” tanya pak bramantyo
“ma’af pak, akibat dari benturan yang dialami putri anda saat kecelakaan
membuat putri anda harus BUTA” ucap dokter
“apa dok Buta” ucap Tiara tak percaya
“iya, akibat benturan yang dialaminya membuat kornea matanya rusak” jawab
dokter
“dok tolong sembuhkan putri saya” ucap pak bramantyo
“ma’af pak, kebutaan putri anda bersifat permanent karena kornea matany rusak
parah” jawab dokter
“apa tidak ada jalan lain dok?” tanya bu lusi
“belum kita ketehui bu, setelah putri anda sadar kita akan melakukan
pemeriksaan lebih lanjut” jelas dokter
***
“ma, pa, kok gelap” ucap Mutia saat ia tersadar
“sayank ini mama” ucap bu Lusi menAngis
“ma lampunya nyalain donk, mutia enggak bisa lihat” ucap mutia ketakutan
“sayank disini terang banget, enggak gelap” ucap pak bramantyo
“tapi ini gelap pa, mutia enggak bisa lihat” seru mutia
Semua hanya terdiam sambil menAngis melihat nasib mutia
“pa ma jangan bilang kalau mutia buta” tAngis mutia
“sayank kamu akan sembuh” ucap bu Lusi
“enggak,,, mutia enggak mau buta pa ma” teriak mutia
Tiara yang sedari tadi diam melihat sang kaka histeris memutuskan untk
keluar,,,
“Ya Tuhan, kenapa ini harus terjadi dengan kak Mutia” seru Tiara terduduk
didepan pintu
“ampuni kesalahan kakak hamba, jangan biarkan dia menderita dalam kegelapan”
tAngis tiara
Hari ini telah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut atas kondisi mata Mutia,,,
“dok bagaimana keadaan anak saya? Dia masih bisa sembuhkan?” tanya pak
bramantyo saat bertemu dengan dokter
“seperti yang pernah saya katakan dari pertama pak, kebutaan ini bersifat
permanent karena kerusakan kornea mata putri anda” jelas dokter
“apa tidak ada jalan lain?” tanya oak bramantyo
“hanya ada 1 jalan pak untuk mengembalikan penglihatan putri anda” jawab dokter
“apa itu dok?” tanya pak bramantyo
“dengan operasi pencangkokan kornea mata” ucap dokter
“lakukan apapun dok untuk menyelamatkan putri saya” ucap pak bramantyo
“ini yang sulit pak, tidak sembarang kornea mata yang dapat didonorkan” ucap
dokter
“terus?” tanya pak bramantyo
“kornea mata yang benar2 cocok pak, apalagi kerusakan yang dialami oleh putri
anda begitu parah jadi sangat berbahaya jika kita sedikit saja salah memilih
kornea mata” jelas dokter
Pak bramantyo kembali keruangan Mutia dan menjelaskan semuanya apa yang
terjadi,
“pa tia enggak mau buta” tAngis mutia
“iya sayank, papa janji papa akan berusaha untuk mencari donor mata buat kamu”
ucap pak bramantyo
Tiara yang mendengarnya langsung keluar dan langsung menuju ruangan dokter yang
menangani Mutia,,,
“dok, saya mau mendonorkan mata saya untuk kaka saya” ucap tiara saat bertemu
dengan sang dokter
“dek, yang dapat mendonorkan kornea mata itu hanya orang2 yang sudah meninggal
atau orang2 yang sudah dalam kondisi akhir” ucap dokter
“dok saya mohon, saya bersedia” ucap tiara kekeh
“ma’af kami enggak bisa, itu sangat berbahaya buat nyawa kamu” ucap tiara
“saya mohon dok, saya rela nyawa saya harus jadi taruhannya, asal kaka saya
bisa melihat” ucap tiara
Setelah berdebat cukup lama, dengan berat hati dokter menuruti keinginan
tiara,,,
“lebih baik kamu fikirkan kembali keputusan kamu” ucap dokter
“saya sudah yakin dok” ucap tiara mantap
“oke kapan kamu siapa melakukan pemeriksaan?” tanya dokter
“sekarang dok” ucap tiara
“begitu mulia hati gadis ini, dia rela nyawanya menjadi taruhan demi sang
kakak” ucap dokter dalam hati
Akhirnya hari itu Tiara mengikuti serangkaian pemeriksaan, dan hasilnya
positif,,,
Keesokan harinya operasipun dilakukan, kedua orang tua Mutia dan Tiara masih
belum tahu kalau Tiaralah yang mendonorkan matanya,,,
“pa, Tiara kemana ya?” tanya bu lusi saat tengah berdiri didepan ruang operasi
“iya2 ma, papa belum lihat tiara” jawab pak bramantyo
Merekapun dibuat cemas dua kali lipat,,,
Setelah beberapa jam operasi akhirnya selesai,,,
Mutia langsung dipindahkan keruang VVIP untuk pemulihan,
“pak bu ada yang mau saya bicarakan” ucap dokter saat didalam ruangan VVIP
“ada apa dok?” tanya pak bramantyo
“bisakah anda berdua ikut saya?” ucap dokter
Akhirnya Pak Bramantyo dan bu Lusi mengikuti langkah sang dokter,,,
“mau apa dok kita kesini?” tanya pak bramantyo saat mereka berhenti didepan
ruang mayat
“mari pak masuk” ajak dokter
Dengan rasa bingung dan penasaran akhirnya mereka masuk kedalam,,,
“ini siapa dok?” tanya bu Lusi saat dokter berhenti didepan sebuah mayat
tertutup kain putih
Dokter perlahan membuka kain tersebut dan betapa terkejutnya pak bramantyo dan
bu Lusi saat melihat mayat tersebut adalah putri bungsungnya Tiara,,,
“Tiaraa” teriak bu Lusi
“tiara bangun sayang, jangan tinggalin mama” ucap bu Lusi histeris
“dok apa yang sebenarnya terjadi?” tanya pak bramantyo
“kenapa putri saya bisa seperti ini?” lanjut pak bramantyo
Dokterpun menceritakan semuanya dan menjelaskan apa yang yang telah terjadi,,,
Ya disaat operasi tengah berjalan, tiba2 kondisi Tiara menurun dan akhirnya
Tiara harus menghembuskan nafas terakhirnya saat operasi berlangsung,,,
“enggak, tiara bangun sayank” tAngis bu Lusi menAngisi putri bungsunya
***
Hari ini pemakaman Tiara dilakukan, Mutia masih belum tahu siapa pendonor
untuknya,,,
TAngis haru masih dirasakan oleh keluarga Bramantyo, begitu juga keluarga Tiara
dipanti,,,
Semua ikut sedih dengan apa yang telah terjadi,,,
Hari ini tepat 3 hari sudah pasca operasi, dan hari ini perban yang menutupi
mata mutia akan dibuka,,,
Perlahan namun pasti, perban tersebut terbuka,,,
“buka mata kamu perlahan2” ucap dokter
Perlahan dan perlahan akhirnya mata Mutia terbuka, dilihatnya kiri kanan,,,
“ma pa, mutia bisa lihat lagi” ucap Mutia senang
“Terima kasih Tuhan, kau telah mengembalikan penglihatan putri hamba” saru pak
bramantyo
Saat Mutia tengah berbahagia, mutia melihat wajah kedua orang tuannya yang
masih memancarkan kesedihan
“pa ma, papa sama mama kok kayak enggak seneng gitu Mutia bisa lihat lagi” ucap
Mutia
“enggak sayank, papa sama mama seneng Mutia bisa melihat lagi” ucap pak
Bramantyo
“pa mutia tahu kalau papa enggak seneng, kenapa pa? Apa papa sama mama udah
enggak sayang lagi sama Mutia?” ucap Mutia
“sayang papa sama mama sayang banget sama Mutia” ucap bu Lusi
“terus kenapa?” ucap Mutia melihat sekitarnya
“apa karena Tiara enggak ada? “ ucap Mutia yang memang dia tak melihat tiara
Semuanya hanya terdiam
“jawab, papa sama mama lebih sayang sama Tiara” seru mutia
“cukup Tia, jangan kamu bicara yang enggak2 tantang adik kamu” ucap pak
bramantyo
“kenapa? Sampai kapan papa akan membanggakan gadis itu” ucap mutia marah
“sampai papa menyusul Ara, papa akan tetap bengga dengan dia” ucap pak
bramantyo menAngis
“mutia, seharusnya kamu berterima kasih sama adik kamu” sahut dokter
“kenapa sih semua harus Tiara2 dan Tiara” ucap mutia kesal
“Cukup Tia, tanpa ketulusan adik kamu, enggak mungkin kamu melihat lagi” ucap
bu Lusi yang mulai habis kesabaran
“maksud mama?” tanya mutia
“mutia, tiaralah yang sudah mendonorkan matanya untuk kamu, dia rela kehilangan
nyawanya asal kamu dapat melihat lagi” jawab dokter
“jadi tiara.....” ucap mutia menAngis
“kamu sekarang baru sadar Tia kalau ara begitu Tulus sayang sama kamu” ucap pak
bramantyo
“Araa,, ma’afkan aku” tAngis mutia menyesal
“ini ada surat untuk kamu dan keluarga kamu mutia” ucap dokter memberikan
secarik kertas
Dear my sister,,,
Ka Tia ma’afkan Ara yang sudah mengambil kasih sayang papa dan mama, Ara tak
pernah bermaksud untuk merebut mereka dari kak Tia,
Ara senang waktu itu ara diangkat sebagai bagian dari keluarga Bramantyo,
apalagi Ara tahu kalau Ara punya saudara kayak Kak Tia,
Bahkan kebahagian Ara bertambah ketika Ara benar2 anak kandung Bramantyo, itu
artinya Ara adalah adik kandung kak Tia,
Itu adalah kebahagian yang Ara rindukan selama bertahun2 kak,
Tapi Ara nyesel karena Ara telah membuat Kak Tia sedih dan marah akan kehadiran
Ara ditengah2 kalian,
Maka Ara memutuskan untuk pergi dari kehidupan kalian, tapi Ara merasa begitu
tak tahu terima kasih kalau Ara tiba2 pergi gitu aja tanpa membalas kebaikan
kak Tia dan papa sama mama,
Semoga dengan apa yang Ara lakukan untuk terakhir kalinya bisa membuat kak Tia
mema’afkan Ara dan mengakui Ara adik kak Tia,
Ara akan selalu ada dihati kak Tia, papa sama mama,
Terima kasih buat kalian semua, karena telah menjadi keluarga dan memberikan
kasih sayang yang selama hidup Ara begitu Ara rindukan,
Ara sayang kak Tia, papa sama mama,
Selamat tinggal,
Tiara
“Tiara adik Kak Mutia, sampai
kapanpun Ara tetap adik kak Tia” ucap Mutia menAngis
“terima kasih kak Tia, Ara sayank kalian” ucap Ara yang hadir ditengah2 mereka
dengan berupa bayangan
Bayangan Ara tersenyum dan menghilang,,,
Sabarlah lintang
“ cepat masuk kamar, jangan keluar sebelum ibu izinkan!”
Setiap hari suara itu terdengar
menggema mengisi ruangan rumah lintang, Terkadang suara itu membuat kepala
lintang seperti mau pecah. Ia bosan, geram, namun tak bisa berbuat apapun, hal
inilah yang membuat lintang cenderung menyendiri. Diayunda hampir tak kuasa
menghadapi kekerasan hati ibunya. Namun di satu sisi lintang sadar bahwa apa yg
dilakukan ibunya, bu tresno, menunjukan bahwa ibunya menginginkan diayunda
kelak menjadi orang yg sukses. Tapi yg disayangkan lintang, mengapa sepertinya
tidak ada cara lain kecualimengurung diayunda di kamar hanya untuk trus belajar
setiap hari.
Salah satu
akibat telalu banyak membaca, lintang yg kini baru menginjak kelas 9 sd harus
mengenakan kacamata yg cukup tebal. Badannya yg sudah sdikit kurus dan barambut
panjang kini ditambah lagi dengan hiasan sebuah kacamata tebal. Kata dokter,
matanya minus empat. Hanya nilai-nilai yg baik dan pujian dari teman- temannya
yg bisa sedikit mengibur dan melebur laranya itu. Kini, lintang bukan saja harus
menghadapi ibu yg super galak, tapi ia juga harus menghadapi sebuah penyait
kanker darah yg kapanpun dan dimanapun dapat menidurkan diayunda untuk
selamanya.
Setahun
telah berlalu, kini Lintang tela duduk di bangku SMA. Berkat keteunannya dala
belajar dan kesungguhan bu Tresno dlm mendidik anaknya, lintang menjadi salah
satu siswa yg teladan disekolahnya. Apapun yg diminta lintang asalkan untuk
kepentingan belajar dan kesehatan pribadi lintang, bu Tresno pasti
mengabulkannya.
Di SMA,
Lintang seperti menganal dunia baru. Diayunda merasa sulit bergaul, tak
seberapa banyak teman yg ia miliki. Akibatnya, Lintang hanya berdiam diri di
rumah, walaupun selalu ada dorongan untuk keuar rumah bemain dengan teman
sebayanya. Tersirat rasa iri dalam hatinya, ketika ia melihat teman-temannya yg
tampak selalu bergembira, seperti tak ada beban
***
Di sisi
lain, bu Tresno merasa puas ia merasa cara yg digunakannya merupakan cara yg
jitu untuk menjadikan anaknya cerdas dan sukses. Di yg tidak diketahui ibunya, Lintang adalah
seorang yg ambisi atas prestasi. Tak jarang Lintang menanis karena mendapatkan
hasil yg kurang sempurna.
Lintang juga dikenal sebagai seorang kutu buku dan pelajar
nomor wahid di sekolahnya. Sayang, teman- temannya tidak mengetahui bahwa
dibalik kesuksesannya it, Lintang adalah orang yg sensitif suatu ketika
mudh bersemangat, namun seketika juga hilang semangatnya, lalu putus asa.
Sikap
lintang yg berbeda dari teman-temannya, ternyata menarik perhatian Andika,
ketua OSIS di sekolah Lintang. Di sela-sela waktu istirahat hanya untuk sekedar
menannyakan kabarnya. Andika tidak peduli walau diayunda telah kelas 3,
sedangkan Lintang masih duduk di kelas 1. Andika merasa bahwa Lintang adalah
sosok yg tepat dijadikan sahabat dan perlu sebuah motivasi. Lintang juga
merespon perhatian yg diberikan Andika kepadanya dengan baik, karena di mata
Lintang Andika adalah sosok yg jujur, pintar, dan berkepribadian yg dewasa,
motivasi yg diberikannya juga sangatlah cukup membahagiakan Lintang.
Hari terus
berlalu, Lintang kini telah menginjak umur 16th. Pengalamannya mengahdapi
berbagai cobaan bertubu- tubi membuatnya semakin cerdik dalam berbicara.
Kemampuannya beragumen membuat kagum guru-guru dan temannya, sehingga mereka
menunjuknya menjadi ketua kelas. Kedekatan Lintang dan Andika ternyata
melahirkan jutaan perasaan di hati Lintang, bahkan terkadang ia sedikit
berdebar jika bertatapan dengan andika,
sementara andika telah menganggap Lintang seperti adiknya sendiri. Demikian perhatian
Andika kepada Lintang sangat besar. Sebagai contoh, pada Ulang tahun Lintang ia
rela mengambil tabungannya untuk membeli sebotol madu dan sebuah diary sebagai
hadiah ulang tahun lintang.
Atas
kehendak Allah SWT, madu tersebut ternyata seperti sebuah mukzizat bagi
Lintang. Setelah menggunakan madu tersebut sebagai obat mata, mata lintang
mulai membaik. Bukan main gembiranya Lintang, ingin rasanya ia memberi hadiah
untuk Andika sebagai ucapan terima kasih. Namun andika menolaknya, baginya
kegembiraan Lintang sudah cukup baginya.
Ternyata kedekatn Lintang danAndika tidak disukai oleh
ibunya Lintang, dengan alasan kedekatan Lintang dan andika hanya akan meracuni
konsentrasi belajar lintang. Sedangkan jerih payah andika untuk membelikan obat
untuk Lintang, dianggap bu Tresno hanya sesuatu yg kebetulan. Malah sebaliknya
bu Tresno menuduh Andika memiliki maksud buruk dibaliknya. Dengan berbuat baik
kepada Lintang, dianggapnya akan dapat mengambil hati dan memeras hartanya,
karena Andika memang bukan berasal dari keluarga yg mampu seprti Lintang.
“ lintang !!, dari mana saja kamu” tanya bu tresno dengan
nada tinggi
“bermain dengan teman, bu” jawab lintang gugup.
“ berani kurang ajar kamu. Ibu menyuruh kamu untuk belajar!
Bukan bermain. Pasti kamu bermain dengan Andika? Hei!Lintang dengar!! Ibu tidak
mau melihat kamu bermain dengannya lagi ! Camkan itu !”
Lintang
kaget bukan kepalang, hatinya berkata dan memohon kepada illahirabbi. “ ya
allah apalagi cobaan yg engkau berikan kepadaku” ujarnya dalam hati. Tak terasa
airmatanya jatuh meleleh dipipinya
disertai isak tangis ia berkata “ tapi bu...”
“ sudahlah tak ada tapi-tapian. Cepat masuk kamar!!” bentak
bu tresno dengan wajah marah dan mata memerah.
Dengan
berat hati Lintang melangkah ke kamar. Direbahkan tubuhnya ke tempat tidur,
hatinya pilu, bantalnya pun terbasahi oleh airmatanya. Lintang menyesali nasib g menimpanya seolah
kehadirannya di dunia bagai insan yg harus menanggung derita sepanjang hayat.
Perlahan ia bangkit, merapikan rambut dan perlahan melangkah mengambil sapu
tangan dan menghapus airmatanya. Sebentar kemudian ia telah berdiri di depan
cermin, seolah ingin memastikan seperti apa wajahnya.
Tiba-tiba
kepalanya pusing, berat dan nafasnya pun terasa sesak. Dengan meringis menahan
sakit, ia menoba memegang kepalanya. Darah segar pun mengalir melalui
hidungnya. “astagfirullah”, dia menatap wajahnya yg pucat dan dihiasi dengan
darah yg mengalir, Lintang terkejut. “ya Allah, ada apa dengan diriku ini??”.
Cept cepat ia membersihkan darah yg ada di hidung dan sekitar bibirnya. Dengan
nafas yg masih terengah-engah, ia duduk di ranjang memikirkan kejadian yg
menimpa diayunda. Beberapa saat kemudian ia baru sadar akan penyakit yg
dideritanya. Ia pun besujud dan meminta kepada Allah
“ ya allah, engkau maha pengaih, berilah aku kekuatan,
berikan aku kesehatan, dan izinkan aku beribadah kepadamu di bumi ini ya
Allah.”
Keesokan
harnya Lintang tak memberitahukan kejadian semalam kepada kedua orangtuanya.
Ayahnya yg seorang pembisnis selalu sibuk dan hampir tidak tahu kondisi Lintang
saat ini ataupun sikap bu Tresno terhadapnya. Lintang khawatir jika ia
ceritakan kedua orangtuanya akan bermusuhan. Apa yg dialaminya hanya
diceritakan kepada Andika. Mendengar ituandika terkejut, mereka pun langsung
menuju Rumah sakit untuk memerikasa kondisi lintang. Soal biaya, Lintang cukup
mengeluakan tabungan yg ia punyai.
Oh..
ternyata dari hasil observasi dokter, Lintang dinyatakan harus KEMOTERAPI,
karena dengan kemoterapi tidak hanya memberantas sel kangker saja tapi juga
memperbaiki darah pada sumsum tlang belakang. Lintang sangat ketakutan, perlu
waktu untuknya menimbun kekuatan dan keberanian untuk meakukannya. Sementara
itu andika terus menerus menyarankan agr Lintang berbica terus terang kepada
buTresno. Namun saran itu tidak pernah diturutinya, Lintang bersikeras tidak
mau melakukannya.
Kondii ini
tidak menyurutkan semangatnya, sebagai seoang yg berjiwa senia ia tetap sibuk
aktif mengikuti lomba vokal dan baca puisi. Di hari ulang tahun sekolahnya,
diadakan kegiatan lomba membaca puisi, melihat kesempatan itu tentu saja tidak
ia sia-siakan. Berhari-hari ia berlatih membaca puisi, semangatnya membara,
konsentrasinya terpusat penuh kepada satu tekad yaitu diayunda harus menjadi
juara. Di hari lomba ia telah mempersiapkan segalanya. Langkah kakinya menapaki
pangung gtuk belaga, dengan segala ekspresi jiwnya, Lintang tampil memukau,
penonton yg hadir di tempat itu terkesima dengan segala ekspresi lintang.
Mereka semua terdiam. Naamun, di tengah kekhsyukan lintang sedang berekspresi
membawakan puisinya, tiba-tiba kepalanya terasa pusing, persis seperti kejadian
di depan cermin kamar. Intonasinya menjadi kacau tak beraturan, keadaan seperti
itu membuat penonton heran. Apalagi setelah darah segar kembali keluar dari
lubang hidungnya. Beberapa detik kemudian, bait- bait puisi yg keluar dar
bibirnya terhenti, ia tersungkur pingsan dia ats panggung.
Melihat
keadaan itu, andika yg menyaksikan penampilannya tiba-tiba berlari, dan
meloncat ke atas panggung, dan membalikan tubuh lintang dengan tangan bergetar.
‘lin, sadarr lin !!”
“ toloobg !!!”
Andika
segera mengangkat tubuh Lintang, membopongnya dan membawanya lari. Guru-guru
dan penonton pun kaget melihat Andika yg sedang membopong Lintang. “ andika
tunggu!” teriak kepala sekolah. Andika tetap bergeming, dengan penuh tenaga
dibpongnya Lintang enuju rumah sakit, hingga ada sebuah kendaraan yg ia paksa
berhenti bersedia mengantarkannya ke rumah sakit di kotanya.
Setelah
sampai, Lintang langsung dibawa ke ruang emergrncy. Sementara itu andika
tersungkur lemas karena kelelahan seusai berlari membawa tubuh lintang. “ aku,
harus menelpon bu tresno,”. Pikiran taktis melintas dalam otak cerdasnya.
Mendengar kabar dari andika, di seberang telepon bu Tresno bagaikan disambar
petir, secepat kilat ialangsung menuju rumah sakit.
Tak berapa
lama bu Tresno pun datang
“ ada apa dik??, ceritakan sejelasnya kepada ibu!’ ujarnya
panik, kepada Andika yg masih lesu dengan baju basah dengan keringat.
Andika
segera membuang pandangan kosongnya akibat shock, ia sadar bahwa bu Tresno
harus tahu segalanya. Mulai dari A hingga Z, Andika pun mengutarakan semuanya.
Sementara itu, guru-guru dan kawan-kawannya juga mencari tahu kemana Lintang
dibawa oleh Andika. Setelah menghubungi handphone andika dan mengetahui bahwa
mereka ada di rumah sakit, kepala sekolah dan lainnya pun segera menyusul
kesana. Dalam waktu 1 jam mereka telah berkumpul semua di rumah sakit ditambah
pak tresno dan kerabat dekatnya.
Mereka semua terhenyak kaget saat dokter keluar dari
ruangan itu. Dokter yg juga berkacamata minus 3 itupun menjelaskan kondidi
penyakit Lintang yg sudah cukup parah. Katanya sekarang lintang sedang diinfus,
dokter juga menyarankan untuk melakukan kemoterapi secepatnya.
“ tapi apa sebabnya dok??, mengapa nanak saya bisa sakit
separah itu??”
“mungkin kondisi batin anak ibu yg tertekan atau kelelahan
akibat kegiatan-kegiatan yg ia lakukan. Kurang istirahat sehingga bibit kangker
dalam tubuhnya semakin menggerogoti bagia- bagia ntubuh Lintang”.
Mendengar
semua itu, bu tresno tersadar. Ada penyesalan yg mendalam dalam diayunda. Ia
meras diayundalh yg menyebabkan ketegangan dalam diri Lintang. Langkah yg
menurutnya akan membahagiakan Lintang ternyata malah berbalik menyiksa anaknya
sendiri. Lintang yg saat ini menjadi korban ambisi ibunya, tebujur kaku tak sadarkan
diri. Entah apa imbalan yg dapatkan, jiwanya tak pernah bebas, batinnya tak
pernah berhenti menjerit, selalu dirundung malang sepanjang hatyatnya. Keringat
hasil jerih payahnya seolah hanya disuguhkan utuk ibunya yg tak pernah peduli
dengan keadaanya.
*****
CINTA SEJATI
Gerimis malam itu masih saja belum reda. Tari tetap saja menanti
berhentinya kereta api di stasiun Gambir, menunggu kepulangan Erick yang selalu
dia nantikan suara lembutnya. Dia sangat rindu pada temannya dan rindu itu
dirasa amat menyekam setelah hampir satu tahun ini mereka terpisah pada jarak.
Erick berkuliah di yogyakarta sedangkan Tari sendiri meneruskan kuliahnya di
Jakarta.
Kereta api sudah berhenti dan penumpang berhuyung-huyung turun. Matanya sibuk
mencari Erick diantara kerumunan orang berlalu-lalang. Namun sayang tak dia
dapati Erick di sana. Janjinya untuk datang menemui Tari dirasa hanya janji
belaka. Kesetiaannya menunggunya di stasiun selama dua jam berlalu begitu saja.
Amat dingin diarasa udara malam itu, tapi hati dialah yang lebih merasakan
dingin. Mimpinya yang saat itu akan dia rasakan pelukan hangat Erick serasa
melayang jauh bersama sepinya stasiun.
“mav lama ya nungguin q”, Tari berbalik arah. Matanya
melotot terkejut melihat Erick telah berdiri di depannya seraya menunjukkan
senyum manisnya. Tari hanya tersenyum haru dan semenit kemudian dia segera
merangkul Erick, melepaskan kerindukannya pada Erick selama ini.
“Kamu membuatku hampir menangis
Lul” ucap Tari di sela isakan tangisnya.
“Bukan hampir tapi emang sudah
kan?” canda Erick. Tari memukul kecil dada Erick. Merasa haru sekaligus
bahagia. Abim hanya tertawa kecil dan mendekapku erat.
“kita pulang yuk..” ajak Erick.
Tari termangu sesaat. Kecupan lembut yang begitu dia rindukan tak dia dapati
saat itu. Sikap Erick yang selau kaku tetap dia dapati meski telah satu tahun
mereka terpisah pada jarak. Erick bukanlah tipe cowok romantis. Erick
adalah cowok tegas dan bijaksana yang tak pernah memberinya belaian lembut
kecuali dengan canda dan leluconnya. Namun begitu Tari selalu sayang dan cinta
dia. Dia sendiri yakin bahwa Erick juga mencintainya. Buktinya selama lebih
tiga tahun mereka pacaran tak sekalipun Erick menyakiti Tari. Erick selau
membuatnya tertawa diantara nada-nada humornya. Selama mereka pacaran cuma
sekali Erick mencium Tari ketika ia ulang tahun dan itupun juga di kening.
“Heh..kok ngelamun sih, pulang
yuk.” Kata Erick mengagetkan Tari. Tari mengangguk pelan dan membiarkan Erick menggandeng tangan Tari. er
Satu jam telah berlalu sia-sia.
Erick tak kunjung datang malam itu sesuai janjinya untuk menemui Tari di taman.
Tari hanya sabar menunggu meski setiap menit malam itu dia rasakan penuh dengan
rasa iri ketika melihat pasangan yang lain tengah memadu kasih. Romantis
sekali. Dia jadi teringat akan kata-kata Ikfi tadi siang yang membuat
perasaannya bimbang.
“menurut ku pacaran tanpa
belaian dan ciuman itu ibarat makan tanpa lauk, kurang lengkap.” Ceplos Ikfi
mengomentari Tari ketika ia menceritakan tentang sikap Erick selama mereka
pacaran. Mendengar komentar Ikfi, Tari hanya tertunduk.
“Coba kamu pikir selama kamu
pacaran apa yang sudah Erick kasih ke kamu. Cuma kasih sayang? Itu kurang non,
apa kamu cukup puas dengan ngerasain kasih sayang itu dan apa kamu sudah pernah
dapat wujud dari kasih sayang itu?”
“maksud mu?”tanyaku tak
mengerti.
“misalnya kalau dia apel dia
ngasih setangkai mawar buat kamu atau setidaknya dia mencium kening mu sebagai
ungkapan dia sayang dan cinta sama kamu”
“Erick memang tidak pernah
melakukannya Fi…” kata Tari datar.
“Lha terus kenapa kamu betah.
Cowok nggak romantis gitu kenapa masih kamu pertahankan. Bisa makan ati tahu
nggak! Boro-boro kamu dibelai, dipegang saja tidak. Menurut ku cowok seperti
itu tidak bisa menghargai arti cinta. kamu benda hidup Yun, yang kadang juga
ingin disentuh, tapi sayangnya kamu bego jika harus rela menyerahkan hati mu
pada dia.” ucap Ikfi panjang lebar yang selalu mengiang-ngiang di telingaku.
“Apa benar kata Ikfi? Entahlah aku sendiri tak mengerti. Kadang aku sendiri
sempat berfikir apa benar Erick mencintaiku, karena selama ini Erick tak
sekalipun membelaiku ketika dia apel. Hatiku benar-benar sakit mengingat itu
semua. Erick bukanlah tipe cowok romantis yang selau kuimpikan, Erick yang
selau bersikap biasa bila bersamaku dan anehnya semua itu kujalani begitu saja
selama tiga tahun lebih, bukan waktu yang singkat memang, karena itu aku selalu
berusaha menepis jauh-jauh kegundahanku soal cowok romantis.”
Tapi tidak dengan malam itu. Ketidaksabaran Tari menunggu Erick yang molor
datang membuat dia semakin yakin kalau Erick tidak menyayanginya ataupun
mencintainya. Hubungan itu hanya sebagai hubungan berstatus pacaran tapi tanpa
cinta. Meskipun tiga tahun yang lalu Erick resmi mengikrarkan cintanya pada
Tari.
“Kamu lama ya menugguku? Maaf
mobilku mogok tadi” kata Erick menghentikan niat Tari yang ingin meniggalkan
taman saat itu
juga.
“Tidak ada alasan lain?” Tanya
Tari sinis. Erick menatap dia dengan janggal.
“Kamu marah Ta?”, tanya Erick
datar.
Tari hanya acuh tak acuh. Tari ingin tahu bagaimana reaksi Erick jika melihat
dia marah. Tari ingin Erick mengerti apa yang dia iginkan, menjadi cowok
romantis itulah mimpinya. Tidak seperti saat itu. Tari dan Erick duduk dalam
jarak setengah meter. Tidak dekat dan mesra-mesraan seperti pasangan lain malam
itu.
“Ta maafin aku, tapi mobilku
emang tadi mogok.”
“Kamu kan bisa telepon atau sms
aku Lul, bukan dengan cara membiarkanku menuggumu kayak gini.”
“Aku lupa bawa Hp Ta.”, ucapnya
pelan. Aku tetap tak mengindahkannya.
“Kamu tahu tidak Lul, malam ini
aku semakin yakin kalau kamu memang tidak pernah serius mencintaiku” papar Tari
tersendat.
“Ta kenapa kamu bicara seperti
itu. Apa kamu kira selama tiga tahun lebih kita pacaran aku hanya iseng saja.
Aku pikir kamu bisa paham tentang aku, tapi nyatanya…”
“Ya aku memang tidak paham
tentang kamu. Kamu yang kaku dan beku bila di sampingku yang tidak pernah
membelaiku dan mengucapkan kalimat-kalimat indah di telingaku. Kamu yang cuma
sekali mencium dan berkata aku cinta kamu. Kamu yang tidak memberiku
perhatian-perhatian romantis selama ini. Kamu..kamu Lul membuatku muak dengan
semua ini”, kata Tari dengan nada
tersendat.
Mata Tari telah tergenang air hangat dan dia sunguh tidak sanggup lagi
membendungnya.
“Jadi kamu pikir cinta cuma
bisa diungkapkan dengan keromantisan Ta, kamu kira apa hubunga kita terjalin
tanpa rasa apa-apa dariku?”, tanya Erick.
Tari masih terdiam bisu dalam tangisnya.
“Ta..selama ini aku mengira
kamu sudah mengerti banyak tentang aku, tapi ternyata aku salah. Kamu bukan
Tariku yang dulu..”
“Kamu memang salah menilai aku
dan akupun juga salah menilai kamu. Menilai tentang hatimu dan tentang cintamu
selama ini”
“Perlu kamu tahu Ta aku sangat
mencintaimu dan sayangnya rasa cintaku ini harus kamu tuntut dengan
keromantisan”
“Aku tidak bermaksud menuntut
Lul, aku cuma ingin hubungan kita indah seperti orang lain”
“Wujud
dari keindahan itu bukan terletak pada keromantisan Ta tapi terletak pada cinta
itu sendiri. Aku tidak pernah membelai dan menciummu karena aku menghormati
cinta kita. Aku tidak ingin hubungan kita menjadi ternoda dengan hal-hal yang
dimulai dari belaian ataupun ciuman. Aku sayang kamu dan dengan itulah aku bisa
buktikan seberapa dalam aku mencintaimu”
Dada Tari berdesir seketika. Segera dia tatap mata teduh Erick. Disana ia
dapati keteduhan cinta dan kasihnya.
“Ta…jika kamu anggap cinta cuma
bisa dinyatakan dengan sentuhan-sentuhan keromantisan itu salah. Cinta bukan
cuma itu saja. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menjaga hubungan suci
itu tetap suci sampai kita benar-benar terikat pada hubungan yang halal. Selama
ini aku kira kamu bisa mengrti itu semua. Tapi aku salah dan untuk itu aku
minta maaf jika aku tidak bisa menjadi seperti apa yang kamu mau”
“Lul aku cuma..”, ucap Tari tak
terteruskan.
Ada rasa sesak yang keluar begitu saja di hatinya. Tari telah melukai Erick dan
itu bisa ia lihat dari kalimat datarnya.
“Kamu tidak salah Ta dalam hal
ini. Dan sepautnya aku melepaskanmu malam ini, membiarkanmu mencari cowok
romantis seperti harapanmu. Jangan kamu kira aku tidak pernah mencintaimu,
karena itu membuatku terluka. Jujur selama hidaupku aku tidak pernah memikirkan
gadis lain selain dirimu”
Bersaman kalimat itu Erick berlalu meninggalkannya. Entah…kenapa bibir Tari tak
mampu mencegah langkah Erick. Semua ia rasa bagai mimpi. Hanya dengan satu
kesalahan ia buat semua berakhir dalam sekejap. Air matanyapun sudah mengalir
deras. Seharusnya ia bangga memiliki Erick yang tidak pernah neko-neko.
Seharusnya aku tidak mendengarkan pendapat-pendapat Ikfi tentang cowok
romantis. Seharusnya aku tidak membuat Erick terluka saat itu.
Kereta api di stasiun depok
sudah berangkat dua menit setelah ia tiba di sana. Tari berlari kesana-kemari
memanggil-manggil nama Erick dari jendela satu ke jendela lain. Namun usahanya
itu tanpa hasil. Kereta api dengan perlahan telah membawa Ericknya dan juga
cintanya pergi jauh. Tari berdiri terpaku melihat kereta api yang kian menjauh.
Sesalnya menumpuk. Tari datang terlambat hingga tidak sempat mengatakan maafnya
pada Erick.
Kini Tari mulai sadar bahwa
tidak ada yang lebih bisa membahagiakannya kecuali dengan kehadiran Erick.
Bagaimanapun dia, romantis ataupun tidak dialah orang yang benar-benar ia
cintai. Kenangan-kengan indah bersamanya walau tanpa kemesraan saat itu
membelainya dengan rasa yang teramat. Asanya telah pergi dan itu cuma bisa ia
lakukan dengan menangis terpaku di tempatnya berdiri. Hidupnya tiada arti tanpa
Erick, dengan mencintainya apa adanya itu sudah lebih dari cukup. Tidak ada
lagi tuntutan untuk dia berubah menjadi Erick yang romantis. Rasa sesal telah
membuatnya menyimpan permintaan maaf untuk Erick.
Sampai dadanya tersentak
merasakan tangan seseorang meraih bahunya Tari. Ia menatap tajam wajah itu.
Mata teduh yang selalu membuatnya merasa damai jika didekat Erick. Kelebutan
jiwanya senantiasa menyuguhkan warna indah dalam memori dan sungguh tidak ada
yang lebih romantis selain Erick….
kj
gadis senja
Senja pertama.
Aku menyelonjorkan kakiku di teras depan. Hari ini
baru saja aku pindahan dari kost lamaku. Sudah lama aku ingin pindah tapi baru
kali ini niatku terlaksana. Kost lamaku cukup jauh dari kampus sehingga aku
harus menghabiskan hampir lebih dari satu jam perjalanan setiap hari untuk
pulang pergi ke kampus. Meski begitu, kost baruku ini tidak lebih baik dari
yang sebelumnya. Aku harus berbagi ruangan sempit ini dengan dua orang kawanku.
Tidak betah rasanya berlama-lama di dalam sana. Aku lebih senang seperti ini.
Duduk selonjoran di teras, hanya berkaus oblong sambil kipas-kipas. Nikmatnya…
Kampusku ini cukup dekat dengan bandara. Aku bisa
melihat pesawat terbang rendah di atas kepalaku. Pesawat-pesawat itu sudah
seperti nyamuk saja, mondar mandir setiap saat tanpa peduli padaku yang sedang
istirahat. Saat aku mendongakkan kepala, mencari pesawat terbang yang
gemuruhnya memekakkan telinga, tatapanku terpaku pada sosok di atas sana. Di
loteng kost yang berdampingan dengan tempatku. Aku tak dapat melihat wajahnya
dengan jelas karena terhalang oleh rambutnya.
Senja ke-5.
Sore ini, seperti biasa aku melihat gadis itu duduk di
loteng kostnya. Rambut hitam panjangnya selalu seperti itu. Menutupi sebagian
wajahnya. Hingga sat ini aku tak tahu pasti tempat apa itu. Siapa pula yang
mengizinkanku masuk ke dalam sana? Bahkan jika aku sekedar berdiri di depan
garasi mereka pun bisa menimbulkan tanda tanya besar. Siapakah dia? Apa
hubungannya dengan penghuni kost ini? Mungkin begitulah yang akan mereka
pikirkan. Aku? Aku adalah aku. Hubunganku dengan mereka? Tidak ada. Aku hanya
tetangga baru mereka sekitar empat hari yang lalu. Kostku hanya dua langkah
dari tempat mereka tinggal.
Ngomong-ngomong soal gadis yang duduk di loteng itu,
aku selalu penasaran terhadapnya. Aku penasaran apa yang ia lakukan di sana
setiap sore. Selepas adzan Asar hingga terdengar suara orang tadarus dari
mesjid kampusku yang berarti sebentar lagi waktu Magrib tiba. Tak ada yang
istimewa memang. Menurutku ia tidak begitu cantik. Ya, karena ‘bagiku’ orang
cantik itu akan terlihat tetap cantik walau dilihat dari ujung dunia sekali
pun. Jangan protes! Sudah kutegaskan ini hanya menurut pendapatku.
Hari ini pengamatanku terhadap aktivitasnya cukup
mengalami kemajuan, meski hanya satu langkah. Ternyata ia sedang membaca buku.
Aku tak tahu secara persis apa judul buku tersebut. Lebih tepatnya aku tak mau
tahu. Tidak penting. Setelah kupikir-pikir tak ada yang istimewa juga. Memang
menurut kalian apa yang akan dilakukan oleh seseorang yang bengong di atas
loteng selain baca buku-atau pura-pura baca buku? Sepertinya tidak ada.
***
Seharusnya hari ini tepat menjadi senja ke-10 aku
melihatnya termenung di atas sana. Eh, jangan salah sangka dulu! Aku tidak
pernah menghitungnya secara sengaja. Aku hanya mengikuti perhitunganku tinggal
di kost baru ini. Bukankah sepuluh hari sudah aku tinggal di sini -bersama dua
orang kawan karibku? Tapi hari ini cuaca sedang tidak bersahabat. Hujan deras
tak berhenti turun sejak siang tadi. Angin kencang menggoyahkan pohon-pohon
pisang di halaman tetanggaku. Bunyi guntur berpadu dengan gemuruh pesawat yang
menantang maut di udara. Situasi sangat kacau. Semoga dia tidak sedang duduk di
sana-doaku dalam hati.
Senja ke-19.
Aku duduk di beranda kostku lagi. Seperti biasa, dari sana
aku bisa melihatnya duduk di atas loteng sambil membaca buku yang tak pernah
sama setiap harinya. Kover buku itu selalu berbeda-merah kuning hijau di langit
yang biru-upss ngawur, hehe. Aku heran. Sudah lama aku mengamatinya seperti
ini, tapi ia tak pernah menyadari-atau memang sengaja tidak peduli? Ah, mengapa
aku seperti ini? Mengapa aku malah memiliki kebiasaan aneh seperti
dirinya-bahkan lebih aneh? Setiap sore selama dua puluh hari terakhir -kecuali
hari ke-10 dan ke-13, karena hujan- aku duduk di sini menunggunya keluar dan ia
duduk di atas sana lalu kembali masuk saat muadzin memanggil.
Hei lihat! Ada apa dengan gadis itu? Apakah ia
menangis? Perkembangan yang luar biasa dari pengamatanku! Aah, sepertinya
bukan. Aku bahkan sudah bisa menebak cerita ini dari awal. Orang yang suka
bengong biasanya suka menangis sendiri bahkan tertawa sendiri. Cerita ini sudah
tidak menarik lagi. Mengapa harus ada adegan menangis segala sih? Mengapa pula
aku peduli?
Saat aku beranjak masuk setelah mendengar adzan berkumandang,
aku merasakan sesuatu jatuh di atas pundakku. Aku kira ada cicak jatuh. Jujur,
aku paling benci cicak. Untungnya bukan. Itu hanyalah secuil penjelasan.
Senja ke-23.
“Aku ingin bertemu dengan dia.” Ucapku takut-takut.
Bagaimana tidak takut? Lima pasang mata serentak
menghujamkan tatapan seramnya di mataku. Kuterka-terka arti dari masing-masing
tatapan tersebut. Sepasang mata di ujung kanan menyiratkan kewaspadaan-hei
memangnya aku ini mau maling apa? Dua pasang mata di sampingnya menatapku tanpa
berkedip, seolah ingin menelanjangiku dari ujung kaki hingga rambutku dengan
sorot tajamnya. Dua pasang mata berikutnya hanya tatapan ingin tahu dan minta
penjelasan-mau apa datang kemari? Sepasang terakhir? Uh, sepertinya ia tidak
sedang memperhatikanku. Ia malah sibuk dengan entah tablet, pil, kapsul atau
apalah namanya. Mungkin hadiah terbaru sang kekasih atau hasil rengekan kepada
maminya seperti anak kecil yang meminta mainan. Ayolah, tentu saja aku tidak
serius! Aku bahkan tidak berani memandang mereka-apalagi sampai balas menatap
sorot tajam mereka kepadaku.
“Dia siapa?” bentak yang paling ujung kanan-yang
mengira aku mau maling.
“Oh-eh aku…dia…” aku malah tergagap.
Duh bego banget sih aku. Mau ditaruh di mana mukaku?
Masak baru ditantang lima cewek aja udah KO duluan. Perlahan aku menarik
napasku dalam-dalam. Kupejamkan mataku untuk beberapa saat. Uh memangnya sedang
mengahadapi siapa aku ini? Hei, kalian pikir gampang menghadapi lima harimau
buas di kandang mereka? Ini bahkan lebih sulit dari menghadapi lima harimau
itu.
“Aku ingin bertemu dengan temanmu yang biasa duduk di
atas loteng.” Ucapku tegas.
Entah dari mana kepercayaan diriku itu berasal. Aku
bahkan bisa lebih pede dari kelima makhluk di hadapanku. Memang harusnya
seperti itu, kan?
Bulu kudukku merinding. Apakah mereka serius?
Mungkinkah mereka sengaja meyembunyikan salah seorang teman mereka? Aku kira
seharusnya ada enam orang yang tinggal di sana. Tapi aku dapat melihat dengan
jelas ekspresi lima wajah itu. Juga sorot mata mereka. Semuanya menampakkan
keheranan dan kebingungan plus mendadak ketakutan. Bukan tatapan galak seperti
ketika aku datang pertama kali tadi. Ah, ini bisa membuatku benar-benar gila!
Aku kembali membuka lipatan kertas kecil di genggamanku.
-Aku menyukai senja. Aku mencintai merah langitnya.
Jangan tanya mengapa karena aku tak punya alasan untuk itu. Aku menangis karena
aku bahagia. Aku bahagia karena akhirnya ada seseorang yang peduli padaku.
Menyenangkan rasanya jika ada yang perhatian pada dirimu, bukan begitu? Tapi, cukuplah
sekedar memperhatikanku dari bawah sana. Jangan pernah kau penasaran
terhadapku, apalagi mencariku. Dan mulai saat ini, kau tak perlu lagi
menungguku-
Aku mendongakkan kepala ke loteng itu. Lihat! Dia ada
di sana. Tidak! Dia tidak sedang duduk. Dia berdiri memandangku dari atas sana.
Aku melihat senyum tergurat di bibirnya. Apa? Dia tersenyum? Oh tidak, tidak!
Aku mengucek-ngucek mataku tak percaya. Kutarik napasku dalam-dalam dan kembali
mendongak. Aku terkesiap. Tubuhku menggigil. Keringat dingin membasahi sekujur
tubuhku. Ibu, dia tidak ada!