Jumat, 21 Juni 2013

pencuri impian


Ada seorang gadis muda yang sangat suka menari. Kepandaiannya
menari sangat menonjol dibanding dengan rekan- rekannya, sehingga dia seringkali menjadi juara di berbagai perlombaan yang diadakan. Dia berpikir, dengan apa yang dimilikinya saat ini, suatu saat apabila dewasa nanti dia ingin menjadi penari kelas dunia.

Dia membayangkan dirinya menari di berbagai negara, serta ditonton oleh ribuan orang yang memberi tepukan kepadanya.

Suatu hari, dikotanya dikunjungi oleh seorang pakar tari yang berasal dari luar negeri. Pakar ini sangatlah hebat, dan dari tangan dinginnya telah banyak dilahirkan penari-penari kelas dunia. Gadis muda ini ingin sekali menari dan menunjukkan kebolehannya di depan sang pakar tersebut, bahkan jika mungkin memperoleh kesempatan menjadi muridnya.

Akhirnya kesempatan itu datang juga. Si gadis muda berhasil menjumpai sang pakar di belakang panggung, seusai sebuah pagelaran tari. Si gadis muda bertanya: “Pak, saya ingin sekali menjadi penari kelas dunia. Apakah anda punya waktu sejenak, untuk menilai saya menari? Saya ingin tahu pendapat anda tentang tarian saya”. “Oke, menarilah di depan saya selama 10 menit”, jawab sang pakar. Belum lagi 10 menit berlalu, sang pakar berdiri dari kursinya, lalu berlalu meninggalkan si gadis muda begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Betapa hancur si gadis muda melihat sikap sang pakar. Si gadis langsung berlari keluar. Pulang ke rumah, dia langsung menangis tersedu-sedu. Dia menjadi benci terhadap dirinya sendiri. Ternyata tarian yang selama ini dia bangga-banggakan tidak ada apa- apanya di hadapan sang pakar. Kemudian dia ambil sepatu tarinya, dan dia lemparkan ke dalam gudang. Sejak saat itu, dia bersumpah tidak pernah akan menari lagi.

Puluhan tahun berlalu. Sang gadis muda kini telah menjadi ibu dengan tiga orang anak. Suaminya telah meninggal. Dan untuk menghidupi keluarganya, dia bekerja menjadi pelayan dari sebuah toko di sudut jalan.

Suatu hari, ada sebuah pagelaran tari yang diadakan di kota itu. Nampak sang pakar berada di antara para menari muda di belakang panggung. Sang pakar nampak tua, dengan rambutnya yang sudah putih. Si ibu muda dengan tiga anaknya juga datang
ke pagelaran tari tersebut.

Seusai acara, ibu ini membawa ketiga anaknya ke belakang panggung, mencari sang pakar, dan memperkenalkan ketiga anaknya kepada sang pakar. Sang pakar masih mengenali ibu muda ini, dan kemudian mereka bercerita secara akrab. Si ibu bertanya, “Pak, ada satu pertanyaan yang mengganjal di hati saya. Ini tentang penampilan saya sewaktu menari di hadapan anda bertahun-tahun yang silam. Sebegitu jelekkah penampilan saya saat itu, sehingga anda langsung pergi meninggalkan saya begitu saja, tanpa mengatakan sepatah katapun?”

“Oh ya, saya ingat peristiwanya. Terus terang, saya belum pernah melihat tarian seindah yang kamu lakukan waktu itu. Saya rasa kamu akan menjadi penari kelas dunia. Saya tidak mengerti mengapa kamu tiba-tiba berhenti dari dunia tari”, jawab sang pakar.

Si ibu muda sangat terkejut mendengar jawaban sang pakar. “Ini tidak adil”, seru si ibu muda. “Sikap anda telah mencuri semua impian saya. Kalau memang tarian saya bagus, mengapa anda meninggalkan saya begitu saja ketika saya baru menari beberapa menit. Anda seharusnya memuji saya, dan bukan mengacuhkan saya begitu saja. Mestinya saya bisa menjadi penari kelas dunia. Bukan hanya menjadi pelayan toko!

” Si pakar menjawab lagi dengan tenang “Tidak …. Tidak, saya rasa saya telah berbuat dengan benar. Anda tidak harus
minum anggur satu barel untuk membuktikan anggur itu enak.

Demikian juga saya. Saya tidak harus menonton anda 10 menit untuk membuktikan tarian anda bagus. Malam itu saya juga sangat lelah setelah pertunjukkan. Maka sejenak saya tinggalkan anda, untuk mengambil kartu nama saya, dan berharap anda mau menghubungi saya lagi keesokan hari. Tapi anda sudah pergi ketika saya keluar. Dan satu hal yang perlu anda camkan, bahwa Anda mestinya fokus pada impian Anda, bukan pada ucapan atau tindakan saya.“ “Lalu pujian? Kamu mengharapkan pujian? Ah, waktu itu kamu sedang bertumbuh. Pujian itu seperti pedang bermata dua.

Ada kalanya memotivasimu, bisa pula melemahkanmu. Dan faktanya saya melihat bahwa sebagian besar pujian yang diberikan pada saat seseorang sedang bertumbuh, hanya akan membuat dirinya puas dan pertumbuhannya berhenti. Saya justru lebih suka mengacuhkanmu, agar hal itu bisa melecutmu bertumbuh lebih cepat lagi. Lagipula, pujian itu sepantasnya datang dari keinginan saya sendiri. Tidak pantas Anda meminta pujian dari orang lain.” “Anda lihat, ini sebenarnya hanyalah masalah sepele. Seandainya anda pada waktu itu tidak menghiraukan apa yang terjadi dan tetap menari, mungkin hari ini anda sudah menjadi penari kelas dunia.” Mungkin Anda sakit hati pada waktu itu, tapi sakit hati Anda akan cepat hilang begitu Anda berlatih kembali. Tapi sakit hati karena penyesalan Anda hari ini tidak pernah bisa hilang selama-lamanya.”

Rabu, 19 Juni 2013

hanya lelaki biasa

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya. Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan. Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu. Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka. Kamu pasti bercanda! Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda. Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak. Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah. Tapi kenapa? Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa. Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya. Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania! Cukup! Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Setahun pernikahan. Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka. Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia. Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania. Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan. Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama. Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik. Cantik ya? dan kaya! Tak imbang! Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya. Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan! Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil. Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang. Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali. Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya. Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan. Dokter? Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar. Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat? Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri. Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir. Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat. Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis. Mama Nania yang baru tiba, menangis.

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..
Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya. Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh. Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi. Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh? Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli. Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun. Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari.

Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat. Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik. Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua! Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya. Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta.
Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi? Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan. Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna.

Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya. Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Rabu, 22 Mei 2013

18 mei 2013



Ini awal w buat tulisan ini. Bingung awalnya mau nulis apa, habisnya banyak banget orang-orang di kepala w yg mau keluar, tapi yg keluar Cuma ide ide setengah jalan. Ya udah w putusin bikin cerita ini aja. Mudah-mudahan pada suka ma  tulisan- tulisan ga jelas disini. Awalnya w buka dengan bismillah.
Oya perkenalkan nama w Rozza hastama Wijaya, w anak tunggal dari seorang single parent yg sll bisa buat w bahagia tak lain dan tak bukan adalah nyokap w. Temen-temen w biasa manggil w Ocha, tapi ga tau kenapa mulai sma w dipanggil rozza.. dan terakhir w disebut dengan julukan si Bogel atau Bocah Gelo, ga tau kenapa juga,, padahal suer disamber geledeg ini bukan penyakit turunan tapi kerjaan anak-anak aja
Ok kita mulai!!
Dimulai dari kejadian kemarin..
Malem-malem lagi makan sop iga, w dikagetkan dengan bunyi seorang cewe ketawa, suer dah w kaga boonk mana pas itu posisi  di rumah lagi jadi kuncen. Nyokap jaga warung, pakde, bude ma mbak w ada di rumah satunya. Bulu kuduk w langsung berdiri sambil megang mangkok bekas makan, w coba cari dimana suara berasal. Ternyata dari kamar w otomatis indera brugman eh salah indera w langsung tegang smua. Ternyata eh ternyata hape w bunyi ada yg nelpon buat nanyain urusan karang taruna. Hahahaha.. kaget w
“ ada apa im?” tanya w ke boim, temen w diseberang sana
“ kemane aje lu kumpul sekarang, dicariin anak-anak” jawabnya
“iyee sabar, ga tau apa w baru pulang?”
“ ya udah cepetan”
“ iyee luas ga pake panjang” jawab w kesel, sambil nutup telepon
Sejam kemudian w pun berangkat ke tempat anak-anak ngumpul. Rumah yg w tinggalin ini termasuk  cukup unik dan strategis, ke depan masuk wilayah komplek yg termasuk menengah ke atas. Orang tua yg mapan dengan kesibukannya. Anak-anaknya seumuran w maennya warnet ataupun  gadget lainnya dan perlengkapan berkendara yaaah yg bisa dibilang cukup mewah. Dalam urusan panggalangan dana, minimal bisa 1 rumah ngasih 250ribu. Sedangkan ke belakang masuk ke wilayah perkampungan, anak-anaknya cablak dengan segala tata bahasa yg smua ada, dari kebun binatang sampai urusan 18++. Tapi urusan bahu membahu ga ada yg bisa nyaingin mereka dengan relanya bekerja dari bocah sd yg ngangkutin batu, sampai kakek-kakek yg Cuma bisa ngangkut pasir pake ember. Namun kadang w suka galau sendiri kalau anak-anak dari kedua kubu ada perselisihan mana yg harus w belain? Kalau ke depan, w pnya temen di belakang. Kalau belain belakang yg depan w ga enak. Masalahnya padahal cukup sepele tapi mereka ga pernah bisa 1 paham. Akhirnya w mencoba menyibukan diri w dengan semua kegiatan w di kampus. Padahal kalau dipikir-pikir kalau keduanya bsa 1 paham aja bisa tuh jadi masyarakat yg sejahtera, tapi inilah hdup jika ga ada perbedaan maka ga akan pernah ada kebenaran. Seperti perkataan sahabat w, “ percuma elu ngebah persepsi mereka karena hanya sia-sia karena takkan ada kehidupan tanpa adanya kematian, takkan ada benar tanpa kita pernah salah, takkan pernah kita bangkit tanpa kita jatuh, bagaikan mata dalam koin logam. Akhirnya w ga pernah ikut campur mengubah sampai mereka merasakan sendiri kesalahan-kesalahan mereka.
Kembali ke  masalah tadi, beberapa menit kemudian w sampai ke rumah temen w, ternyata mereka lagi mau nyoba bikin kompetisi futsal di kecamatan ciomas, ya udah akhirnya w bantu  jadi panitia. Senda gurau ocehan ngalor ngidul diisi dalam kegiatan ini dari obrolan biasa sampai ngurus hal-hal berbau politik.  Jam 9 kurang akhirnya w balik di temani secangkir teh hangat, menyusuri jalan raya yg mulai sepi kendaraan.
Sampai rumah ternyata lampu udah nyala, maksud w listrik bkn Cuma lampu. Ada  beberapa sms masuk diantaranya dari si manis, lia, dan eo. W bales aja smsnya 1 persatu kecuai eo, karena pemberitahuan rapat. Sms si manis yaah... sms biasa tapi bikin jantung w cukup berdeta cepat, hanya basa-basi dari cwo yg kegeeran ke si manis. Sms lia tentang keperluan ke kampus,
<ka, besok ke sekre ga? Pagi bisa ga? Soalnya mau minta cap>
Balesan w
<besok paling jam 11 atau 10 soalnya saya naek kereta jam 9>
<yaah ka, jam setengah 9 deh soalnya mau langsung buka stand>
<ya udah deh>
Akhirnya w pun terlelap dengan sebelumnya shalat isya dulu.

Keesokan harinya......
Wekker hape w kaga bunyi!! Gila kan?? Padahal w dah janji ma ia dateng sebelum jam setengah 9, akhirnya w bangun telat,sampai uring-uringan ma nyokap gara-gara ngomel ga jelas pas w lagi buru-buru. Dengan kecepatan kilat ala sena kobayakawa di eyeshield 21 atau the flash dalam komik marvel, w secepatnya menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian w pun udah rapi, eh buru-buru mau berangkat nyampe depan gerbang w lupa belom buka gembok pager, yo weess w balik lagi nyari kunci dan buka genboknya, ga lupa ngesteal sepotong pisang aroma karya nyokap engan resep chef rozza. Hahahaha... mav garing
10 menit menunggu angkot, pikiran dagdig dug, jantung w kepkiran gimana kalau w ketinggalan kereta??. Akhirnya angkot pun berhenti w pun naek dengan sebelumnya membaca basmallah, diangkot masih sepi dan w lagi dan lagi kelupaan bawa payung. Setengah jam dalam angkot dengan perasaan yg was-was ngeliat jam udah jam 6 kurang 5, perjalanan udah tinggal beberapa meter dan masalah pun tiba!!. Angkotnya ngetem hadeehhh, ga bisa liat lagi buru-buru apa?, akhirnya w turun dan berjalan cepat menuju stasiun.
Beberapa menit kemudian, ditemani hiruk pikuk suara burung, eh maksud w orang yg menjajakan dagangannya di sekitar stasiun  dari tukang gorengan sampai tukang semir juga ada bahkan tukang copet pun mengintai,, hahaha. W pun membeli karcis dengan tipe ekonomi, karena menurut w percuma beli comuter line juga karena jatohnya pagi-pagi itu sama kaya pepes ikan dimasukin ke ruangan yg Acnya kadang mati dan bikin naek darah, ga berbeda jauh ama Ekonomi yg udah pasti(kebayang kan??) lebih dari pepes.

kupu



BUTTERFLY

“Ayo lari!” Cowok itu menepuk bahuku dan tersenyum.
Aku membalas senyumannya, dan aku mulai menyusul di belakangnya. Cowok itu terus berlari mendahului anak-anak yang lainnya. Dan ia pun menepuk semua bahu anak cewek yang dilewatinya. Kecuali satu orang. Tiara. Cowok itu melewati Tiara sambil tersenyum lebar. “Aku duluan.” Aku bisa membaca gerak bibir cowok itu.

Kenapa cowok itu hanya tersenyum saja, tidak menepuk bahu Tiara?
“Bengong, lagi ngeliatin siapa?” tanya Miki, teman sekelasku dan sekaligus temanku di Karate, sabuk hijau.
“Siapa? Aku tidak….”
“Hidayat, ya? Wajar kok. Ia tampan dan ramah pada siapa saja. Semua orang suka padanya. Lihat, ia tertawa, lucu banget, ya, babyface!”

Aku hanya tersenyum mendengarnya.
Setelah berlari mengelilingi aula tertutup 5 putaran, semua anggota Karate berbaris dan mulai pemanasan dibimbing Sensei. Aku berbaris paling belakang di ujung kiri, jadi aku dapat melihat semua orang. Lagipula aku masih sabuk putih, jadi harus baris di belakang.
Aku baru masuk eks-kul ini, dan baru 3x latihan. Tapi entah kenapa, aku merasa cowok sabuk kuning itu selalu melihat kea rah Tiara, cewek tomboy, penuh semangat dan ide-ide itu. tiara mengenakan sabuk hijau.
Kurasa curi-curi pandang. Apa cowok itu naksir? Tapi….”
Saat latihan usai, aku buru-buru meminum aqua-ku, karena aku sangat haus. Tiba-tiba cowok itu, oke baiklah, ‘Hidayat’, mengacak-acak rambutku. “Rajin latihan, ya, agar teknikmu semakin bagus.”
Aku tersenyum dan mengacungkan jempol, “Baik, oke!” Baru kenal, tapi Hidayat langsung dapat menarik siapa saja. Dari dekat, matanya benar-benar bagus, cokelat muda. Hidayat seangkatan denganku, Miki, dan Tiara. Tapi Hidayat seperti adik kelas saja, sebab wajahnya benar-benar imut!


Sebulan telah berlalu dan selama itu aku di Karate. Dan kini aku sedang berpikir. Hidayat selalu bercanda dengan orang-orang di sekelilingnya. Menyentuh, disentuh, dipukul, memukul. Kurang ajar, agak sombong. Ramah, penyemangat, setia kawan.

Banyak cewek-cewek mengelus rambutnya, merangkulnya. Hidayat pun terkadang tiduran di paha senior cewek. Atau bermanja-manja dengan cewek. Tapi….seperti kupertanyakan sebelumnya, kenapa Hidayat tidak pernah menepuk bahu Tiara? Menyentuh pun tidak. Enatah enggan, entah segan, atau….”
“Jangan melamun, oi!” Miki mencubitku. Ia tertawa.
“Aku tidak melamun, aku sedang memerhatikan kupu-kupu itu!”
“Benarkah?” Miki tiduran di rerumputan di sebelahku. “Oh, langit biru sekali, indahnya!”
“Benar, aku suka istirahat di sini….Langit pun terlihat dan di sini teduh.”
“Kau suka pada Hidayat?”
“Suka, tentu saja, teman….:”
“Kau sering memerhatikannya.”
“Oh, itu….” Aku tergelak. “Aku memang memerhatikan, ah, tidak, lebih tepatnya meneliti.”
“Meneliti?”
“Ya….”
“Dia? Sudahlah, akui saja kalau kau suka padanya.”
“Tidak, sungguh. Oke, awalnya aku suka. Aku ge-er sendiri karena ia baik padaku.”
“Dia juga baik padaku. Dan kupikir…dia menyukaiku.” ujar Miki. “Aku lebih dulu mengenalnya, Dian.

Aku hanya tersenyum mendengar ucapan ketus temanku itu.
“Kenapa tersenyum?”
“Tidak, hanya saja kurasa Hidayat suka pada Tiara.”
“Tiara? Tidak mungkin! Dengar Dian, ia tidak akrab dengan Tiara seperti ia akrab dengan kita. Ia tidak pernah bercanda konyol dengan Tiara, menyentuh pun tidak!”

Ups, sepertinya Miki emosi! “Tenang, Miki. Dengarkan aku. Karena itulah aku meneliti. Memang tidak pernah ‘menyentuh’. Tetapi jika kaulihat lebih teliti, mereka suka pulang bersama.”
“Itu karena rumah mereka searah. Semua orang tahu itu.”
“…Hidayat sangat memerhatikan Tiara, curi-curi pandang. Ia tidak menyentuh karena ia hormat. Karena ia suka Tiara.”
“Omongan macam apa itu! kau benar-benar menyebalkan! Kita lihat saja nanti, aku yakin Hidayat suka padaku!”
Aku menggaruk pelipisku sambil memandangi kepergian Miki. Aku menghela napas, dan mulai mencari kupu-kupu yang tadi hilang dari pandangan. 

Aku dan Miki melihat hal yang paling kunantikan sejak aku meneliti Hidayat. Setelah selesai kegiatan klub Karate ─ seminggu setelah aku bertengkar dengan Miki ─ Hidayat menggandeng tangan Tiara. Semua anggota klub meributkannya, termasuk Sensei. Ada yang memberi selamat, ada juga yang diam-diam pergi, mungkin menangis di toilet.

Miki terdiam di tempat. Mata dan wajahnya merah.
“Miki, aku minta maaf….”
“Tidak, aku yang harus minta maaf, tapi kurasa aku ingin sendiri dulu. Bisa kau antar aku untuk mencari taxi?”
Aku merangkulnya, “Ayo, dengan senang hati.”

Aku sadar, maksudku tersadar….bahwa Hidayat hanya idola bagiku. Dan kuharap jika aku jatuh cinta lagi, bukan cowok super ramah seperti Hidayat….Aku tersenyum sambil memandangi langit biru di atasku. Sudah tidak ada kupu-kupu lagi yang harus kuteliti.

Jumat, 17 Mei 2013

cerpen



CINTA

Saat pertama kali melihatnya, Tiara sudah tahu, bahwa ia pasti akan patah hati.

Sikap Aufa terlampau dingin, pendiam, tidak ramah, dan tertutup. Namun Aufa mempunyai kharisma tertentu yang membuat Tiara merasa penasaran dan tertarik. Selama Tiara sekelas dengan Aufa, belum pernah satu kalipun Tiara melihat Aufa tersenyum. Tiara sendiri mulai tertarik pada Aufa saat awal semester 2 di kelas 1 SMA. Tiara mulanya merasa penasaran dengan sikap Aufa yang tertutup. Namun lama-kelamaan Tiara jatuh cinta pada Aufa.

“Ti, tolong belanja bahan makanan dan alat mandi, ya! Kak Yati tidak sempat karena banyak tugas. Kau mau ‘kan?” 
Tiara yang memang hanya tinggal berdua dengan kakak perempuannya, tidak boleh menolak. Sejak dua tahun lalu, sejak orang tua mereka meninggal, kakaknya lah yang membiayai hidupnya. Karena itu Tiara tidak ingin mengecewakan kakaknya. Tidak berapa lama kemudian ia tiba di supermarket, Ketika Tiara kesuliatan mengambil kaleng susu yang memang letaknya agak tinggi, seseorang membantu mengambilkannya. Saat Tiara akan mengucapkan terima kasih, ia terkejut saat melihat Aufa. “Aufa?”
Penampilan Aufa sangat simple. Ia hanya mengenakan kaos putih lengan panjang dan jean biru yang warnanya mulai pudar. Wajahnya biasa saat melihat Tiara, tanpa ekspresi apa pun. Lalu pandangan Tiara beralih pada wanita di samping Aufa. Wanita itu tampaknya lebih tua dari Aufa, wajahnya sangat cantik! Rambutnya hitam legam, lurus, dan panjang melewati bahu. Matanya mengenakan lensa kontak ungu, hidungnya bAngir, berlesung pipi, dan berkulit kuning langsat. Ia tersenyum pada Tiara. “Teman Aufa?”
     Tiara tersadar. Ia mengangguk dengan gugup dan tersenyum. “Ya, eh, teman sekelas.”
“Aufa, kok diam saja? Kenalin dong!”
Aufa mengangguk kecil, lalu mengenalkan wanita itu pada Tiara. “ Ini Maya, kakak tiriku. Maya, ini….”
“Tiara.” Tiara menahan malu. Aku tidak percaya, Aufa tidak kenal aku! Padahal ‘kan sekelas! Setelah berbasa-basi sebentar dengan Maya, Tiara langsung menyingkir. Saat ini Tiara punya perasaan tidak enak. Feelingnya mengatakan bahwa Aufa mencintai kakak tirinya yang sudah punya tunangan itu. Tiara cemburu. Ah, seharusnya aku tidak cemburu pada Maya yang cantik dan baik itu. Maya benar-benar wanita pujaan setiap pria!

Keesokannya di kelas, Aufa terus menatapnya. Pasti hanya perasaanku saja. Tiara menggetok pelan kepalanya. Namun saat pulang sekolah, Aufa menahannya di kelas.
“Saat kemarin kau melihat aku dan Maya, apa yang kaupikirkan?” Wajah dan suara Aufa datar tanpa ekspresi.
“Ng….”
“Katakan saja.”
“Ka…kau terlihat jatuh cinta padanya….”
“Itu benar. Sejak ia menjadi kakak tiriku empat tahun yang lalu, aku sudah jatuh cinta padanya. Ia benar-benar gadis yang memenuhi kriteria ideal bagi pria.

Cukup, aku tidak ingin mendengar lagi! “Tapi Kak Maya sudah tunangan. Dan kurasa usiamu dan usianya jauh berbeda.” Tiara sendiri merasa heran, darimana ia punya kekuatan untuk mengatakan kalimat yang seharusnya tidak perlu ia ucapkan.
“Usia kami hanya berbeda lima tahun. Memang Maya sudah tunangan, tapi aku tetap mencintainya.”
“Kenapa menceritakan hal ini padaku? Bahkan namaku saja kau tidak tahu.”
“Yah, mungkin karena perasaanku mengatakan bahwa kau dan teman-teman cewek di kelas ini penasaran akan kisah hidupku. Benar tidak?”
Bagaimana ia bisa tahu? Wajah Tiara memerah karena malu.
“Aku ingin mengatakan satu hal lagi, jika ada cewek yang jatuh cinta padaku, aku hanya bisa menolak. Karena aku hanya mencintai satu orang saja.” Aufa kemudian meninggalkan Tiara sendirian di kelas.
Tiara sangat kesal dengan sikap dingin Aufa. Namun Tiara baru sadar, tadi Aufa bicara banyak. Biasanya Aufa hanya bicara seperlunya, atau bungkam sama sekali. Ini merupakan kemajuan! Tiara benar-benar lupa akan rasa marahnya pada Aufa.
                                                         ***

Sudah tiga hari Aufa tidak masuk sekolah. Dalam surat pada hari pertama Aufa tidak masuk, dikatakan bahwa Aufa sakit.
“Jadi, siapa yang mau menjenguk?” tanya Sammy enggan. Ia tidak menyukai Aufa karena Aufa tidak ramah.
“Kalau aku, sih, lebih baik tes matematika dibanding harus menjenguk Aufa!” timpal Johan. Teman-teman menyetujui Johan.
“Kalian jangan begitu, dong! Aufa ‘kan teman sekelas kita!” Setelah mengatakan itu, Tiara merasa wajahnya panas. “Maksudku, itu….”
Andika yang merupakan KM, memegang bahu Tiara dan tersenyum. “Kalau begitu, kita yang ke rumah Aufa.”
Akhirnya setelah membeli jeruk dan apel merah, Tiara dan Andika menjenguk Aufa. Maya menyambut mereka dengan ramah. Ia mempersilahkan mereka duduk, lalu memanggil Aufa.

Ini adalah kedua kalinya Tiara melihat Aufa dalam pakaian bebas. Kali ini Aufa mengenakan kaos hitam lengan panjang dan jean putih bersih. Rambutnya yang lurus agak gondrong sedikit acak-acakan. Aufa duduk dengan santai di sofa. “Kalian menjengukku….”
“Ya, soalnya kau sudah tiga hari tidak masuk sekolah.” Andika tersenyum. “Tadi buah-buahannya sudah kami berikan pada kakakmu. Ia cantik sekali.”
Aufa menyandarkan tubuhnya ke sofa. Tatapannya mengarah pada Tiara. “Tidak mirip, ya?”
Andika mengangguk tanpa beban. “Kau sakit apa?”
“Flu.”
Hening sesaat. Lalu Maya muncul dan membawakan sirup jeruk dan cheese cake. “Silahkan.”
Tiara dan Andika melahap kue sampai tidak bersisa lalu meminum sirupnya.
“Kalian lapar, ya?” Aufa menahan senyum. Tiara melihatnya. Ah, sungguh, Aufa sangat tampan saat tersenyum! “Mau lagi kuenya?”
“Tidak, terima kasih.” tolak Tiara halus. “Kau sudah baikan, Fa?”
“Sudah, soalnya Maya merawatku.”
“Maya? Kau hanya menyebut nama pada Kakakmu? Itu ‘kan tidak sopan.” Andika mengerutkan alis tidak setuju.
“Maya itu kakak tiriku. Memangnya Tia tidak cerita?” Aufa sedikit mengerutkan kening. “Kau tidak cerita, Tia?”
Tiara menggeleng. Ia menunduk. Aku bukan cewek penggosip! Aku hanya cewek yang mencintaimu!
Setelah beberapa saat diam saja (karena yang punya rumah cuek saja ada tamu), akhirnya Tiara dan Andika pamitan.
“Cuek sekali Aufa…ada teman sekelas datang malah dicuekin….” ujar Andika.
Tiara hanya mengangkat bahu. Apa lagi yang diharapkan dari cowok yang dingin dan tidak ramah itu?
Malam Minggu ini, Tiara harus belanja lagi karena kakaknya kerja lembur. Siapa tahu bertemu Aufa di supermarket! Tapi Tiara harus kecewa karena Aufa tidak sedang belanja di sana. Tapi ketika akan menyetop bus, tiba-tiba Soluna metalik menghampirinya. Aufa membuka kaca depan. “Kuantar pulang?”

Tiara sangat terkejut karena Aufa menawarkan kebaikan hatinya yang tidak disangka-sangka. Tiara buru-buru mengangguk lalu masuk ke mobil. “Dari mana?”
“Mengantar Maya ke rumah tunangannya.” jawabnya tenang tanpa dan datar, seperti biasa. “Kenapa?”
“Tidak….”
“Belanja? Kau hebat, mandiri.”
Tiara menengok ke arah Aufa dengan cepat sampai lehernya terasa agak sakit. Tiara melihat senyum menghiasi wajah Aufa! Jantungnya langsung berdebar kencang. “Kau lebih baik tersenyum, daripada cemberut terus.”
Aufa terbahak-bahak. Ia menyisir poninya ke belakang. Ia memandang lurus ke jalan. “Kau ini cewek yang blak-blakan, ya?”
“Tidak juga.” Tiara menunduk.
“Cemberut…ini bawaan dari Ayahku. Oya, rumahmu di jalan Elang nomor 117 ‘kan?”
Tiara mengiyakan. “Kok tahu?”
“Aku tahu karena aku melihat di agenda kelas.” jelas Aufa.
Tiara menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Tiara benar-benar jatuh cinta! Ia tidak tahu harus berbuat apa untuk melenyapkan perasaannya itu. Ternyata meskipun tidak ramah, dingin, dan tertutup, Aufa masih memiliki kebaikan….
                                                                         ***

Hari ini Tiara berdandan rapi dan mengenakan kebaya. Ia akan ke pernikahan Maya. Aufa mengundang semua teman sekelasnya. Seperti janjinya, Aufa menjemput Tiara. Saat Tiara membukakan pintu depan, Aufa tampak tertegun. Tiara merasa hatinya berbunga-bunga tapi sekaligus malu akan tatapan Aufa. “Kau terlihat asing, Tia.”
“Apa itu pujian?” Tiara berjalan perlahan ke mobil karena susah jalan dengan kebaya dan hak tinggi. Aufa menyalakan AC agar Tiara tidak kepanasan.
“Kau tentu sangat sedih malam ini karena wanita yang kaucintai bersama pria lain….”
“Itu sudah takdir.” Aufa tersenyum pada Tiara. “Seharusnya aku mencari cinta yang lain….”
“Aku bersedia!” ujar Tiara spontan. Lalu ia buru-buru menutup mulutnya. “Lupakan yang barusan, aku hanya bercanda.” Tiara memarahi dirinya. Apa-apaan sih tadi? Ia merasa wajahnya memanas.

Saat pesta pernikahan, untuk melupakan rasa patah hatinya, Tiara makan dengan sepuasnya. Maya sangat cantik dan baik. Dan meskipun kini sudah menikah, Maya tidak akan pernah hilang dari hati Aufa! Aufa mungkin akan mencari cinta yang lain hanya untuk pelarian. Kenapa Aufa begitu bodoh? Kenapa tidak mau memerhatikan sekeliling? Kenapa hanya melihat Maya? Tiara mengambil lontong dan tiga tusuk sate padang beserta bumbunya. Ia memakannya dengan lahap.
“Kau ini stress, rakus, atau lapar, Er?” Andika ikut mengambil lontong dan 4 tusuk sate. Ia cekikikan.
Tiara melirik piring Andika. “Kalau kau, rakus.”
Aufa menghampirinya. “Cari Angin, yuk?”
“Aku masih mau makan.” dalih Tiara sambil mengambil paha ayam bakar yang besar. Dan itu membuat Aufa terbahak. Andika yang melihatnya terbengong-bengong. Wah, Aufa tertawa terbahak-bahak! Bagaimana bisa?

Tiara merasa konyol karena ditertawakan Aufa. Tapi ia cuek dan tetap melahap ayamnya.
“Mau dibungkus ke rumah juga boleh, nanti aku suruh pelayan membungkusnya untukmu. Sekarang temani aku cari udara segar.” Aufa memasukkan kedua tangannya ke saku celana panjangnya yang berwarna hitam, serasi dengan jas dan rompinya. Akhirnya Tiara mengangguk. Aufa membawanya ke atap gedung. Mereka dapat melihat bulan purnama yang tampak ditemani berjuta bintang bertebaran di lAngit malam.
“LAngit malam memang indah.” Aufa memandAngi lAngit. “Aku sungguh tidak suka melihat Maya bersama John.” Aufa berjalan ke pagar tembok yang mengelilingi atap gedung, lalu duduk. Kini ia memandAngi lampu-lampu jalan, gedung-gedung, dan kendaraan di bawahnya yang bagai intan dan permata. Tiara bertopang dagu sambil melihat ke keindahan di bawahnya. Tinggi sekali!
“Ke sini untuk bunuh diri?”
Aufa tertawa. “Yang benar saja! Kurasa…sudah waktunya aku melihat dunia yang lain.”
“Syukurlah.”
“Mau membantuku?”
“Kita ‘kan teman, tentu saja aku akan membantumu.”
“Kau ini baik sekali. Padahal aku tidak ramah. Waktu kau dan Andika menjenguk, aku tidak memedulikan kalian. Tapi kau tidak berubah, tetap menyapaku. Kenapa?”
“Itu ‘kan kewajiban.”
Aufa melompat turun dari pagar tembok. “Ke bawah, yuk.” Aufa menarik tangan Tiara dan menggandengnya. Tiara terkejut karena Aufa menggandengnya. Namun ia tidak bisa terkejut berlama-lama karena Aufa terus menariknya dan menuruni tangga ke lantai 5 dari lantai 12 ini. Tapi kebaya Tiara mengganggunya sehingga ia kehilangan keseimbangan dan jatuh menabrak Aufa. Aufa menangkapnya. Aufa membantunya berdiri, namun ia tidak segera melepaskan Tiara. Ia menatap mata Tiara lembut! Tiara menjadi kegeeran ditatap dengan lembut. “ Maaf, aku lupa kalau kau mengenakan kebaya.” Aufa tersenyum. Lalu ia menggenggam tangan Tiara dan membawanya ke lantai 5 dengan lebih perlahan. Tiara merasa dirinya melayang diperlakukan seperti itu.
                                                             ***

Dengan langkah gontai Tiara berjalan ke ruang tamu. Siapa, sih, sore-sore begini datang bertamu? Tiara terpaku di tempat saat melihat Aufa berdiri di hadapannya. Tadinya Tiara bermaksud menutup pintu dan mengusir Aufa, tapi Aufa menahan pintu dengan kakinya.
“Kok gitu?”
“Ngapain ke sini?”
“Kau marah padaku? Kenapa?”
“Ngapain ke sini?” Tiara mengulAngi pertanyaannya.
“Aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Tapi sepertinya kau sedang tidak mood, jadi….” Aufa berbalik tapi kemudian Tiara menarik kemeja cokelatnya.
Tiara memegang dahinya dengan malu. “Tunggu, aku ikut.” Setelah mempersilahkan Aufa duduk di bangku teras, Tiara dengan cepat berganti baju dan sedikit mengenakan bedak. “Aku siap. Mau ke mana?”
Aufa tertawa. “Kau aneh.” Ia memegAngi perutnya, masih tertawa. “Sejak kenal kau, aku selalu tertawa lepas. Orang tuaku dan Maya sampai heran melihatku.”

Tiara pura-pura tidak mendengar.
“Kita ke café Soul. Aufa menyalakan mobil sambil masih tertawa. “Kau cewek aneh. Tadi marah, cemberut, eh, langsung ceria….”
Tiara merah padam. “Itu ‘kan gara-gara kau.”
“Aku?” Aufa membelokkan mobil ke tikungan gang sambil mendengar penjelasan Tiara. Setelah itu ia mengangguk-angguk. “Kejadian tiga hari yang lalu, ya. Aku tidak mencium bibirnya. Kau hanya melihat punggungku ‘kan? Aku hanya mencium pipi Maya. Perasaanku pada Maya sudah berkurang. Kau cemburu?”

Tiara menggigit bibirnya. “Tidak.”
“Lalu kenapa marah?”
“Yah….”
“Aku suka Ti.”
“Oh.” Tiara memandang ke jalanan. “Apa?”
“Aku suka padamu. Perasaanku pada Maya berkurang gara-gara kau.”
“Sebagai teman?”
“Kalau hanya sebagai teman, aku takkan mengajakmu jalan-jalan.”
“Jadi….” Tiara menatap Aufa malu.
Aufa hanya tersenyum. Tapi itu saja sudah cukup bagi Tiara. Ia tidak perlu kata-kata lagi karena senyuman Aufa berarti suara Aufa. Suara hati Aufa yang terdalam.
***

“Aufa, lagi nonton bioskop kok malah tidur?”
“Maaf, ngantuk, sih….”
“Aufa…giliran nonton action kau semangat, eh kalau nonton film roman malah mengantuk!” Tiara protes sambil berbisik. Ia kesal. Namun tiba-tiba Aufa mengecup pipinya dan tersenyum sambil meleletkan lidahnya.
“Jangan marah, dong. Aku pura-pura tidur, tahu.”
“Huuh, Aufa nyebelin!” Tiara memukul bahu Aufa.
“Sakit, dong. Nanti kucium lagi, nih.” Aufa nyengir.
Tiara langsung berbalik dan menonton film lagi. Jantungnya berdegup kencang dan membuatnya jadi tidak konsen menonton. Sementara Aufa menahan senyum di sebelahnya
                                                            ****

FIFI, TETAPLAH JADI MENTARI

Aku benci kakak. Aku sangat membenci kakakku. Mengingat wajahnya saja, amarah langsung terpercik di hatiku. Mataku langsung terasa perih. Karena amarah yang kerap kali membuatku menAngis. Aku melihat ke bawah, genangan darah mengalir dari kakiku. Karena bingkai yang aku lemparkan, hancur berkeping-keping. Menyisakan sisa kepingan kaca yang berbahaya yang dengan mudahnya aku injak agar segera hancur menjadi debu.
                                                            ***

Hari ini mendung. Aku berjalan dengan langkah gontai menuju gerbang sekolah. Seratus meter lagi. Dan aku harus kembali menghadapi bayang-bayang kakak yang seolah-olah terus mengikutiku. Dimanapun, kapanpun. Aku merasa, bayangan itu selalu ada. Menghantuiku. Aku menatap langit. Gelap. Kelabu. Seperti suasana hatiku saat ini. Namun hal itu sedikit menghiburku. Bukankah tandanya alam bersimpati padaku dengan menyesuaikan cuaca hari ini?

Tetesan air jatuh menimpa kepalaku. Satu tetes. Dua tetes. Tiga tetes. Aku menghitung jumlah butiran air di telapak tanganku. Kemudian menengadah melihat langit. Begitu kelabu, hampir hitam. Tetesan air mulai membasahi wajahku. Di sekitarku, sudah banyak orang yang berlari guna menghindari hujan. Namun, aku diam. Memilih untuk berjalan lambat-lambat. Berharap tetesan air mataku dapat membaur dengan tetesan hujan.

Tepat saat bel berbunyi, aku sampai di dalam sekolah. Suasana begitu ramai. Hujan, selalu membuat banyak orang tepat waktu. Namun, kakak begitu menyukai hujan. Kakak menyukai aroma udara setelah hujan. Karena itu, aku benci. Aku benci hujan. Aku membenci apapun yang disukai kakak.
Aku melihat keadaan. Semua orang tampak basah, tapi tidak ada yang sepenuhnya basah seperti aku. Aku melihat pantulan diriku di pintu kaca sekolah. Menyedihkan. Seorang anak perempuan kurus dengan muka pucat pasi. Pakaiannya basah kuyup pula. Mulai dari ujung kepala, sampai ke ujung kaki. Tiba-tiba, rasa sakit menghantam kepalaku. Perlahan, pandanganku mulai mengabur. Titik-titik hitam menari-nari di pandanganku.

                                                                ***

Segalanya tampak putih. Dimana ini? Aku segera bangun, tapi lagi-lagi rasa sakit seolah-olah mencengkram kepalaku, hingga aku terjatuh lagi. Aku meneliti keadaan. Bau obat, begitu kental di penciumanku. Perutku terasa teraduk-aduk. Bau ini, selalu mengingatkanku akan kakak. Amarah segera terbit di kepalaku. Tanpa menghiraukan rasa sakit, aku berlari keluar ruangan, dan jatuh tersungkur di lorong. Aku hanya samar-samar merasakan ada seseorang yang memapahku. Membantuku untuk duduk tegak.
Ternyata Ibu Widya. Dokter di UKS sekolah. Ibu Widya tidak menyuruhku untuk kembali ke dalam UKS. Beliau sepertinya menyadari aku yang alergi akan aroma rumah sakit. Beliau tidak berkata apa-apa. Hanya mengantarku menuju kamar mandi, dan membantuku mengganti seragamku yang sudah basah kuyup.

Aku beristirahat di ruang BK. Sepertinya Bu Widya sengaja meminta kepada guru BK agar ruangan itu kosong. Karena ruangan yang biasanya ramai itu, kini terasa lengang. Aku duduk berhadapan dengan Bu Widya. Aku bisa merasakan tatapannya yang tertuju padaku. Seperti berupaya mempelajari jiwaku. Sengaja aku berpura-pura sibuk memperhatikan langit di luar yang masih setia menumpahkan tAngisnya.

Bu Widya tiba-tiba beranjak pergi menuju lemari yang memuat belasan foto. Beliau mengambil satu, dan meletakkannya di hadapanku. Aku hanya bisa terpaku. Menatap foto itu, amarah kembali terbit dalam dadaku. Bayang-bayang merah seolah mengaburkan penglihatanku. Tidak salah lagi, itu foto kakak. Sedang tertawa bahagia, mengenakan jas dokter milik Ibu Widya. Bertingkah seolah-olah dialah dokternya. Sementara di latar foto, tampaklah aku yang sedang berpura-pura berbaring di tempat tidur.

Prang! Aku melempar bingkai itu, tanpa berpikir apa-apa. Bingkai itu hancur berkeping-keping. Menyisakan kepingan kaca dan kayu, dengan foto yang tersobek. Ibu Widya hanya menghela napas. Kemudian membersihkan keributan kecil yang aku perbuat tanpa berkata apapun. Barulah aku sadar, Bu Widya hanya ingin memperbaiki hubunganku dengan kakak.

Tetesan air mata kembali terbit di wajahku. Kilasan kenangan akan kakak seolah berebut memasuki pikiranku. Kilas balik itu seolah terasa nyata. Begitu nyata, sampai aku merasakan dekapan kakak di sekelilingku. Begitu nyata, seolah aku mendengar setiap omelannya apabila aku bertingkah ceroboh. Kupejamkan mataku. Namun, hal itu semakin memperparah keadaan. Kenangan itu terlalu nyata. Sakit. Sakit sekali. Amarah, benci, dan rindu yang semakin berkecamuk dalam kepalaku. Aku meremas kepalaku kuat-kuat. Aku sudah tidak tahan! Aku berlari keluar. Menembus hujan yang kian angis. Aku harus lari, terus berlari. Pergi dari kenangan yang terasa semakin nyata. Aku memejamkan mataku kuat-kuat. Berharap kenangan itu pergi. Ya, kenangan itu pergi. Kalah oleh rasa sakit yang tidak terperi di kepalaku. Perlahan, membuai kesadaranku kian jauh.
                                                                     ***

Aku melihat kakak melambai kepadaku dari seberang jalan. Wajahnya seperti biasa, dipenuhi keceriaan yang berlebihan. Seolah-olah dunia ini tidak pernah kejam padanya. Seolah-olah seluruh kehidupannya telah sempurna. Kakak melambai lagi kepadaku. Seperti hendak mengatakan sesuatu. Namun, aku tidak mendengar apapun. Kemudian, raut wajah kakak berubah. Mengapa ekspresinya menjadi sedih? Seolah beban dunia berada di pundaknya. Dimana keceriaannya? Kebahagiannya? Sejenak aku melupakan amarahku. Aku ingin berada di sisinya. Ingin menghapus kesedihannya. Aku mulai melangkahkan kakiku menyebrangi jalan. Sebisa mungkin aku ingin berada di dekat kakak. Namun, raut wajah kakak berubah lagi. Kakak tersenyum. Kehangatan menjalar di tubuhku. Ah, betapa aku merindukan senyumnya. Penuh kehangatan. Namun, amarah itu kembali terpercik. Pandanganku kembali mengabur.
“fifi itu kuat, kan?” Sayup-sayup aku mendengar suara kakak. “fifi punya banyak teman, kan? Fifi harus kuat. Karena kakak yakin, fifi menyimpan kehangatan mentari di dalam diri fifi...”

Ah, ucapan kakak barusan membuat mataku kembali basah. Aku tidak kuat. Aku tidak tegar. Aku lemah. Aku tidak sanggup menanggung kepedihan ini jika hanya seorang diri. Aku kembali menatap kakak. Kakak tersenyum lagi. Namun dengan senyuman yang berbeda. Senyuman penuh tekad. Senyuman yang seolah mampu mengalahkan dunia.
“Saat fifi sendiri, ketahuilah. Ada begitu banyak tangan yang mendorong fifi dari belakang. Ada begitu banyak senyuman yang diperuntukkan bagi fifi. Fifi  itu seperti mentari, memancarkan kehangatan...” Ujar kakak dengan wajah penuh tekad.

Aku terpaku. Ingatanku berlarian ke masa itu. Saat-saat terakhir kami berdua. Kenangan yang susah payah aku kubur di dalam palung terdalam ingatanku, menyeruak begitu saja ke permukaan. Kenangan itu... Reka ulang yang sangat jelas. Terpampang di depan mataku.
                                                                       ***

Kami adalah dua bersaudara yang hanya terpisahkan dua tahun. Saat itu aku kelas 10, sementara kakak kelas 12. Kami selalu bersama. Sejak kecil, hanya kakak seoranglah yang selalu menarik tanganku disaat aku terjatuh. Hanya kakak seoranglah yang selalu mendukungku, dan menyelamatkanku. Karena aku terlahir dengan fisik yang lemah, aku jarang sekali bermain dengan teman-temanku di luar. Hanya kakak, temanku satu-satunya.

Saat itu, hari cerah. Juga hari terakhir kakak di pekan ujian nasional. Sepulang sekolah, kakak mengajakku pergi. “Ayo kita menikmati hari yang cerah ini! Sayang kan jika hanya dihabiskan di dalam rumah,” ucap kakak sambil melemparkan senyum jahilnya kepadaku. Awalnya aku tidak mau. Suasana hatiku sedang kacau. Aku memikirkan kakak yang akan pergi meninggalkan rumah untuk kuliah sebentar lagi. Namun, seperti biasa. Kakakku itu pemaksa yang ulung. Akhirnya aku menganggukkan kepalaku.

Semuanya berjalan dengan cepat. Seolah ada seseorang yang menekan tombol fastforward. Terlalu klise. Kami mengalami kecelakaan. Seharusnya, akulah yang pergi. Seharusnya, akulah yang tidak akan pernah lulus dari SMA. Akulah yang tidak bisa membuka sabuk pengamanku sendiri. Namun, kakakku adalah orang terbodoh yang pernah aku kenal. Tidakkah dia tahu aku menyayanginya? Tidakkah dia tahu bahwa aku rela memberikannya apapun? Bahkan termasuk nyawaku sekalipun. Aku menyayAnginya. Lebih dari apapun. Namun kakakku yang bodoh itu mengorbankan dirinya. Menyelamatkanku di saat terakhir. Melindungi aku dari ledakan mobil dengan tubuhnya sendiri. Walaupun kakak bisa saja pergi meninggalkan aku yang terjebak dengan sabuk pengamanku sendiri. Aku masih ingat dengan jelas. Ucapan terakhir kakak. “Tetaplah hidup, Fifi sayang...” Aku menyaksikan bagaimana cahaya di mata kakak yang mulai meredup. Senyuman terakhirnya, yang menyiratkan kemenangan karena merasa telah menyelamatkanku.

Sampai akhirnya kesadaranku pun habis. Hal terakhir yang aku ingat hanyalah rasa panas. Yang menjalar di dalam tubuhku. Begitu panas.
                                                                 ***


Kubuka mataku. Lagi-lagi putih, tapi kali ini aku tidak mencium aroma rumah sakit. Karena rumah sakit, hanya mengingatkanku akan kakak. Mimpinya untuk menjadi dokter, hanyalah sebatas mimpi belaka. Aku membencinya. Karena dia telah membuang nyawanya hanya demi anak lemah sepertiku. Karena meninggalkan papa mama yang sangat menyayAngi dan bangga padanya.

Aku memandAngi keadaan di sekitarku. Bukan sekolah. Bukan rumah sakit. Namun, terasa akrab. Aku kembali menelaah isi kamar itu. Mataku terasa panas. Ini kamar kakak. Tidak salah lagi. Kamar yang sudah satu setengah tahun tidak kukunjungi. Amarah kembali terpercik dalam diriku. Teriakan rasanya tidak sanggup mengeluarkan seluruh amarahku. Aku menendang segala benda yang berada di atas tempat tidur. Sampai mataku tertumbuk pada sehelai kertas putih, yang terlipat di atas meja kecil di samping tempat tidur.

Aku menarik kertas itu perlahan. Tulisan di awal surat itu... Aku terkesiap melihatnya. Untuk seseorang... Tidak salah lagi, ini tulisan kakak. Aku ingin segera membuang kertas itu. Namun rupanya, rinduku mengalahkan segala amarahku akan kakak.

Hari ini, mendung datang di kehidupanku yang selalu cerah. Aku menyaksikan adik kecilku terbaring lemah dengan perban-perban yang menghiasi tubuhnya. Walaupun saat ini kondisiku jauh lebih buruk darinya, setidaknya mataku tidak berhiaskan perban seperti fifiku tersayang. Aku gagal. Aku telah gagal menyelamatkan fifiku tersayang. Aku telah merenggut cahaya dari matanya. Aku telah membuatnya kehilangan masa depannya. Perbuatanku yang terakhir, rupanya tidak cukup untuk melindunginya. Maka dari itu, aku berharap perbuatanku kali ini dapat membantunya. Aku berharap, fifiku akan menjadi pribadi yang kerap tersenyum. Aku harap, mendung akan segera pupus dari wajah cantiknya. Akan aku persembahkan kedua mataku. Aku mungkin telah tiada, tapi aku tetap hidup. Lewat mata yang akan menjadi milik fifiku tersayang.
fifi cantik, tetaplah hidup. Berjuanglah... Karena fifi adalah mentari bagi kakak, juga bagi semua orang...

Bahkan air mata tidak cukup untuk meringankan kesedihan hebat yang melandaku. Dadaku terasa sesak. Sakit sekali. Aku memegang kedua mataku. Sampai saat ini, aku sama sekali tidak tahu. Yang aku tahu hanyalah kakak yang tiada setelah mengucapkan kalimat terakhirnya padaku. Kakak yang dengan bodohnya menantang maut dengan melindungiku. Karena mama mengatakan bahwa mataku memang sedikit bermasalah, tapi akan segera sembuh, ucapnya saat aku terbangun dari koma dengan mata tertutup perban.

Wajahku berlinang air mata, rasanya aku tidak sanggup menahan tAngisan ini. Aku berjalan menuju cermin. Menatap lekat kedua mata ini. Kupejamkan kedua mataku, dan wajah kakak muncul dalam kepalaku. Tersenyum seolah mengucapkan terimakasih. Senyuman yang begitu hangat. Yang memupuskan semua amarah. Menggantinya dengan kehangatan, dengan kekuatan, dengan tekad.

Tok tok.. Ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Pintu kamar terbuka, menampakkan mama dan papa. Aku memandang mereka satu persatu. Teringat betapa aku terlalu sering mengacuhkan mereka semenjak kakak pergi. Betapa aku menumpahkan amarahku akan kakak kepada mereka. Namun, mereka selalu ada. Sadarlah aku, bahwa aku tidak sendiri. Aku berlari menuju mama dan papa. Memeluk keduanya, merasakan kehangatan yang sudah lama tidak aku rasakan


KETULUSAN TIARA

Disebuah panti asuhan di Ibu kota, ada seorang gadis cantik bernama Tiara,,,
Sejak kecil dia harus di tinggal dipanti karena 17 tahun lalu diditelantarkan didepan pintu panti asuhan “Kasih Bunda” itu,,,

Tiara atau biasa disebut ara, adalah sosok gadis cantik dan manis, sikap dan prilakunya begitu baik, dia gadis yang ramah, sopan, lemah lembut, penyayang, Ara adalah sosok gadis yang ceria, meski dia tak mengetahui keberadaan orang tuanya dia tak pernah terlihat sedih dengan keadaannya,,,

Suatu ketika ada 1 keluarga yang ingin mengadopsi Ara, karena mereka merasa dekat dengan Ara,,,
“bunda, Ara pasti kangen sama bunda juga yang lainnya” ucap Ara saat berpamitan dengan Bundanya diPanti
“Ara, kita juga pasti kangen tapi Tuhan sudah menyiapkan rencana buat Ara” ucap bunda
“Arakan pernah bilang kalau Ara pengen punya keluarga” lanjut Bunda
“tapi Ara kan udah punya Bunda dan adik2 disini” ucap Ara sedih
“Ara kamu enggak boleh donk kayak gini, Ara yang bunda kenal dulu ceria dan enggak cengeng” ucap bunda

Setelah cukup, akhirnya Ara ikut dengan keluarga barunya , keluarga Bramantyo,,,
“ayo sayang masuk” ucap Ibu Bramantyo, Lusi
Tiara hanya tersenyum dan mengikuti langkah kedua orang tua barunya,,,

“Ara ini kamar kamu sayank” ucap bu Lusi yang menunjukan kamar untuk Tiara
“makasih bu” ucap Tiara masih canggung
“Ara kok panggil bu sih, kamu panggil kita papa sama mama” ucap pak bramantyo
“iya pa ma” ucap Tiara tersenyum

“ya udah Ara istirahat aja, nanti mama kenalkan sama saudara kamu ya” ucap bu Lusi
Tiara hanya mengangguk

Malam harinya semua tengah berkumpul dimeja makan, termasuk Tiara
“bi tolong panggilkan Mutia ya” ucap pak bramantyo
“baik tuan” ucap bibi
“Non, non Tia ditunggu ibu sama bapak dimeja makan” ucap bibi
“Iya bi, sebentar” teriak Mutia

Tak lama kemudian, seorang gadis dengan memakai baju yang tergolong sexy menuruni anak tangga dengan badan meliuk2 bak seorang model,,,
“malem ma pa” sapa Mutia mencium kedua pipi orang tuannya
“malam sayank” balas bu Lusi
“siapa dia? Kenapa dia duduk disini?” tanya mutia menatap tajam kearah Tiara
“kenalin sayank ini Tiara, disaudara baru kamu” ucap pak Bramantyo
“What? Gadis kampung ini jadi saudara Tia? Enggak salah” ucap Mutia mengejek
“Mutia jaga bicara kamu” seru pak bramantyo
“papa apa2an sih? Ngapain juga bawa gadis kampung kerumah kita” ucap Mutia sombong
“cukup Tia, dia sekarang jadi adik kamu jadi jaga bicara kamu” seru bu Lusi
“iuuhh, sorry pa gak level banget sih” ucap Mutia mengejek dan langsung pergi
“Mutia,,,Mutia” teriak pak bramantyo namun tak dihiraukan oleh Mutia

“pa ma, apa yang dikatakan kak mutia ada benarnya” ucap Tiara yang mendongakan wajahnya karena sebelumnya dia hanya menunduk
“ara hanya gadis kampung yang enggak pantas ada dirumah sebesar dan semewah ini” lanjut ara
“sayank kamu anak papa dan mama, jadi kamu pantas disini” ucap pak bramantyo mantap
***

Sudah hampir 1 bulan Tiara menyandang status anak keluarga Bramantyo..
Selama itu juga dia selalu mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari saudaranya Mutia,,,

Sikap mutia tak pernah berubah malah sikapnya terhadap Tiara semakin menjadi, meski sudah diperingatkan berkali2 oleh kedua orang tuannya tak pernah didengar oleh Mutia,,,

Seperti pagi ini, saat semua dimeja makan dan seperti biasa Mutia tak pernah mau dekat dengan Tiara,,,
“pa ma Tia berangkat dulu ya” pamit Mutia
“Tia sekalian kamu bareng sama Ara” seru pak Bramantyo
“Papa” ucap mutia protes
“udah jangan banyak protes, Ara kamu bareng tia saja kekampusnya” ucap pak bramantyo
“ara bisa berangkat sendiri kok pa, biar kak tia berangkat dulu aja” ucap Tiara manis
“bagus deh kalau loe nyadar, papa denger sendirikan dia bisa berangkat sendiri” ucap Mutia
“enggak, ara kamu bareng sama mutia” ucap pak bramantyo
“iihh ngeselin banget sih” gerutu Mutia
“ya udah yuk berangkat jangan lelet” ucap Mutia kesal
“pa ma ara berangkat ya” pamit tiara
“iya sayank, hati2” pesan bu Lusi
“udah deh ayo cepetan, lelet banget sih loe” teriak mutia dari dalam mobil
“ma’af kak” ucap ara

Saat baru beberapa menit mobil mutia berjalan tiba2 berhenti ditengah jalan,,,
“lho kok berhenti kak?” tanya Tiara heran
“gue kan sudah bilang kalau gue enggak mau bareng sama loe” ucap mutia menatap tajam ara
“so loe turun disini” bentak Mutia
Tanpa banyak jawab, akhirnya Tiara turun dari mobil Mutia,,,

Seperti itulah setiap hari yang dilakukan Mutia, berangkat dari rumah bareng pasti ujung2nya diturunkan ditengah jalan,,,
****

Suatu ketika disaat bu Lusi masuk kedalam kamar Tiara dia menemukan sebuah Liontin,,,
“Liontin ini” ucap bu Lusi tak percaya
“Papa,,, papa” teriak bu Lusi keluar dari kamar Tiara
“kenapa ma?” tanya pak Bramantyo menghampiri sang istri
“pa lihat liontin ini” ucap bu lusi memperlihatkan liontin yang ia temukan
“bukannya ini Liontin,,,,,” ucap pak bramantyo menggantungkan kata2nya
“iya pa ini Liontin Tiara anak kita yang hilang 18 tahun lalu” ucap bu Lusi
“jadi Tiara adalah Tiara kita?” tanya pak Bramantyo
Bu lusi hanya mengangguk

FLASH BACK,,,
Disuatu malam ditengah hujan yang begitu lebat, seorang wanita tengah memperjuangkan nyawa melahirkan anaknya,,,

“oek...oek...oek” suara meramaikan malam itu
“selamat bu, putri anda selamat” ucap seorang bidan sambil menggendong seorang bayi cantik
“kamu begitu cantik sayank” ucap bu Lusi
“namanya siapa putri kecil kita ini?” tanya seorang laki2 yng tak lain adalah pak bramantyo
“Tiara, Tiara Keyzha Bramantyo” ucap bu Lusi sambil mengalungkan sebuah liontin dileher sang bayi

Ditengah malam, disaat semua tengah terlelap dan disaat Bayi kecil Tiara tertidur disebuah Box baby,,, tiba2 seorang suster datang dan langsung membawanya lari,,,
Tiara kecil diletakan didepan pintu sebuah panti asuhan oleh suster tersebut,,,


Semenjak itulah Tiara harus terpisah dari keluarganya, hanya karena orang yang tak bertanggung jawab karena ingin menghancurkan kelurga Bramantyo,
Seorang suster yang menjadi suruhan salah satu saingan bisnis pak bramantyo...
                                                       ***

“sayank kamu anak kandung papa dan mama” ucap bu Lusi memeluk Tiara
Saat itu pak bramantyo dan sang istri menemui tiara yang ada diruang tengah

“enggak,,, enggak mungkin” seru Mutia yang mendengar semuanya
“Tia, Ara ini adik kandung kamu yang telah hilang sayank” ucap pak Bramntyo
“enggak pa, tia enggak mau punya adik kayak dia” ucap Mutia
“ka kenapa kak tia begitu benci dengan Ara?” tanya Tiara yang mulai memberanikan dirinya
“kenapa? Loe masih tanya kenapa?” ucap Mutia marah
“loe tahu karena kehadiran loe dirumah ini papa sama mama lebih sayang sama loe” bentak Mutia
“Tia kamu ngomong apa sayank? Papa sama mama sayang sama kalian berdua” ucap bu Lusi
“kak ma’afin ara kalau emang Ara udah buat kak Tia kehilangan kasih sayang papa sama mama” ucap Ara yang akhirnya meneteskan Air matany

“halah enggak perlu deh loe nAngis, gue udah benci sama loe” bentak Mutia
“Mutia cukup” bentak pak Bramantyo
“kenapa? Papa mau marah sama tia?” tanya mutia menAngis
“papa sama mama berubah setelah kehadiran Tiara disini” ucap Mutia
“sayank papa sama mama enggak pernah berubah, kita tetep sayang sama Mutia” ucap bu Lusi
“papa sama mama lebih sayang Tiara dari pada Mutia” ucap Mutia dalam tAngisnya
“Ka ma’afin Ara, Ara enggak bermaksud buat.....” ucap Tiara terpotong
“halah loe enggak usah sok baik didepan gue” bentak Mutia

“denger lo Tiara, sampai kapanpun gue akan benci sama loe” bentak Mutia menatap Tiara
“Mutia,,, (PLAAAK)” sbuah tamparan mendarat dipipi mulus Mutia
“papa” seru Bu Lusi
“seumur2 baru kali ini Tia ditampar oleh papa, hanya keran dia” ucap Mutia menunjuk Tiara
“Tiara adik kandung kamu Tia, apa kamu harus seperti itu” bentak pak Bramantyo
“Puas kamu Tiara? Puas kamu dibela mati2an sama papa” ucap Mutia tak terima
“kak” ucap Tiara sedih
“Cukup,,, aku bukan kaka kamu” bentak Mutia
“Mutia” seru pak bramantyo dan hendak menampar kembali Mutia
“apa pa? Papa mau nampar Tia lagi? Iya” teriak mutia

“Mutia benci sama kalian semua” ucap Mutia dan langsung berlari keluar
“mutia tunggu” teriak bu Lusi
“kak Tia” panggil Tiara mengejar Mutia

“aku benci papa, aku benci mama, aku benci kalian semua” ucap mutia sambil berlari
“kak tunggu” panggil Tiara yang masih mengejar Mutia diikuti oleh bu Lusi dan Pak Bramantyo

Saat mutia masih berlari dan menyebrang jalan, tiba2 ada sebuah mobil melintas dan,,,
“Kak Tia awaaaaassss” teriak Tiara
“aaaaaaaa” jerit Mutia dan langsung terlempar jauh
“Mutiiiaaa” teriak bu Lusi dan pak bramantyo

Tubuh mutia tergeletak dengan berlumuran darah
“kak bangun ka” ucap Tiara menAngis
“sayank bangun” ucap bu Lusi

Mutia pun langsung dilarikan dirumah sakit,,,
Dengan cepat beberapa dokter dan suster menangani Mutia,,,

1jam,,,

2jam,,,

3jam,,,

4jam,,, dokter tak kunjung keluar, kedua orang tua Mutia dan juga Tiara dengan cemas menunggu didepan ruang UGD,,,

“ya Tuhan, selamatkan kak Mutia” ucap Tiara menAngis
“sayank kamu yang kuat ya” ucap pak bramantyo menenangkan putri bungsunya
“pa ini salah Ara, coba Ara enggak hadir ditengah2 kalian” ucap Tiara
“sssstttt Ara anak papa, Ara enggak boleh ngomong kayak gitu” ucap pak Bramantyo
“tapi pa,,,,,” ucap Tiara terpotong
“Ara ini semua sudah kehendak Tuhan, ada hikmah dibalik musibah ini” ucap pak bramantyo
“iya sayank, Tuhan sudah menyediakan rencana yang terindah buat keluarga kita” sambung bu Lusi

Tak lama kemudian pintu UGD terbuka, seorang dokter keluarg dari UGD,,,
“dok gimana keadaan putri saya?” tanya pak bramantyo
“ma’af pak, akibat dari benturan yang dialami putri anda saat kecelakaan membuat putri anda harus BUTA” ucap dokter
“apa dok Buta” ucap Tiara tak percaya
“iya, akibat benturan yang dialaminya membuat kornea matanya rusak” jawab dokter
“dok tolong sembuhkan putri saya” ucap pak bramantyo
“ma’af pak, kebutaan putri anda bersifat permanent karena kornea matany rusak parah” jawab dokter
“apa tidak ada jalan lain dok?” tanya bu lusi
“belum kita ketehui bu, setelah putri anda sadar kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut” jelas dokter
                                                        ***

“ma, pa, kok gelap” ucap Mutia saat ia tersadar
“sayank ini mama” ucap bu Lusi menAngis
“ma lampunya nyalain donk, mutia enggak bisa lihat” ucap mutia ketakutan
“sayank disini terang banget, enggak gelap” ucap pak bramantyo
“tapi ini gelap pa, mutia enggak bisa lihat” seru mutia
Semua hanya terdiam sambil menAngis melihat nasib mutia

“pa ma jangan bilang kalau mutia buta” tAngis mutia
“sayank kamu akan sembuh” ucap bu Lusi
“enggak,,, mutia enggak mau buta pa ma” teriak mutia
Tiara yang sedari tadi diam melihat sang kaka histeris memutuskan untk keluar,,,

“Ya Tuhan, kenapa ini harus terjadi dengan kak Mutia” seru Tiara terduduk didepan pintu
“ampuni kesalahan kakak hamba, jangan biarkan dia menderita dalam kegelapan” tAngis tiara

Hari ini telah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut atas kondisi mata Mutia,,,
“dok bagaimana keadaan anak saya? Dia masih bisa sembuhkan?” tanya pak bramantyo saat bertemu dengan dokter
“seperti yang pernah saya katakan dari pertama pak, kebutaan ini bersifat permanent karena kerusakan kornea mata putri anda” jelas dokter
“apa tidak ada jalan lain?” tanya oak bramantyo
“hanya ada 1 jalan pak untuk mengembalikan penglihatan putri anda” jawab dokter
“apa itu dok?” tanya pak bramantyo
“dengan operasi pencangkokan kornea mata” ucap dokter
“lakukan apapun dok untuk menyelamatkan putri saya” ucap pak bramantyo
“ini yang sulit pak, tidak sembarang kornea mata yang dapat didonorkan” ucap dokter
“terus?” tanya pak bramantyo
“kornea mata yang benar2 cocok pak, apalagi kerusakan yang dialami oleh putri anda begitu parah jadi sangat berbahaya jika kita sedikit saja salah memilih kornea mata” jelas dokter

Pak bramantyo kembali keruangan Mutia dan menjelaskan semuanya apa yang terjadi,
“pa tia enggak mau buta” tAngis mutia
“iya sayank, papa janji papa akan berusaha untuk mencari donor mata buat kamu” ucap pak bramantyo

Tiara yang mendengarnya langsung keluar dan langsung menuju ruangan dokter yang menangani Mutia,,,
“dok, saya mau mendonorkan mata saya untuk kaka saya” ucap tiara saat bertemu dengan sang dokter
“dek, yang dapat mendonorkan kornea mata itu hanya orang2 yang sudah meninggal atau orang2 yang sudah dalam kondisi akhir” ucap dokter
“dok saya mohon, saya bersedia” ucap tiara kekeh
“ma’af kami enggak bisa, itu sangat berbahaya buat nyawa kamu” ucap tiara
“saya mohon dok, saya rela nyawa saya harus jadi taruhannya, asal kaka saya bisa melihat” ucap tiara

Setelah berdebat cukup lama, dengan berat hati dokter menuruti keinginan tiara,,,
“lebih baik kamu fikirkan kembali keputusan kamu” ucap dokter
“saya sudah yakin dok” ucap tiara mantap
“oke kapan kamu siapa melakukan pemeriksaan?” tanya dokter
“sekarang dok” ucap tiara
“begitu mulia hati gadis ini, dia rela nyawanya menjadi taruhan demi sang kakak” ucap dokter dalam hati

Akhirnya hari itu Tiara mengikuti serangkaian pemeriksaan, dan hasilnya positif,,,

Keesokan harinya operasipun dilakukan, kedua orang tua Mutia dan Tiara masih belum tahu kalau Tiaralah yang mendonorkan matanya,,,

“pa, Tiara kemana ya?” tanya bu lusi saat tengah berdiri didepan ruang operasi
“iya2 ma, papa belum lihat tiara” jawab pak bramantyo
Merekapun dibuat cemas dua kali lipat,,,

Setelah beberapa jam operasi akhirnya selesai,,,
Mutia langsung dipindahkan keruang VVIP untuk pemulihan,

“pak bu ada yang mau saya bicarakan” ucap dokter saat didalam ruangan VVIP
“ada apa dok?” tanya pak bramantyo
“bisakah anda berdua ikut saya?” ucap dokter
Akhirnya Pak Bramantyo dan bu Lusi mengikuti langkah sang dokter,,,

“mau apa dok kita kesini?” tanya pak bramantyo saat mereka berhenti didepan ruang mayat
“mari pak masuk” ajak dokter
Dengan rasa bingung dan penasaran akhirnya mereka masuk kedalam,,,

“ini siapa dok?” tanya bu Lusi saat dokter berhenti didepan sebuah mayat tertutup kain putih
Dokter perlahan membuka kain tersebut dan betapa terkejutnya pak bramantyo dan bu Lusi saat melihat mayat tersebut adalah putri bungsungnya Tiara,,,

“Tiaraa” teriak bu Lusi
“tiara bangun sayang, jangan tinggalin mama” ucap bu Lusi histeris
“dok apa yang sebenarnya terjadi?” tanya pak bramantyo
“kenapa putri saya bisa seperti ini?” lanjut pak bramantyo

Dokterpun menceritakan semuanya dan menjelaskan apa yang yang telah terjadi,,,
Ya disaat operasi tengah berjalan, tiba2 kondisi Tiara menurun dan akhirnya Tiara harus menghembuskan nafas terakhirnya saat operasi berlangsung,,,

“enggak, tiara bangun sayank” tAngis bu Lusi menAngisi putri bungsunya
                                                             ***

Hari ini pemakaman Tiara dilakukan, Mutia masih belum tahu siapa pendonor untuknya,,,

TAngis haru masih dirasakan oleh keluarga Bramantyo, begitu juga keluarga Tiara dipanti,,,
Semua ikut sedih dengan apa yang telah terjadi,,,

Hari ini tepat 3 hari sudah pasca operasi, dan hari ini perban yang menutupi mata mutia akan dibuka,,,

Perlahan namun pasti, perban tersebut terbuka,,,
“buka mata kamu perlahan2” ucap dokter
Perlahan dan perlahan akhirnya mata Mutia terbuka, dilihatnya kiri kanan,,,
“ma pa, mutia bisa lihat lagi” ucap Mutia senang
“Terima kasih Tuhan, kau telah mengembalikan penglihatan putri hamba” saru pak bramantyo

Saat Mutia tengah berbahagia, mutia melihat wajah kedua orang tuannya yang masih memancarkan kesedihan
“pa ma, papa sama mama kok kayak enggak seneng gitu Mutia bisa lihat lagi” ucap Mutia
“enggak sayank, papa sama mama seneng Mutia bisa melihat lagi” ucap pak Bramantyo
“pa mutia tahu kalau papa enggak seneng, kenapa pa? Apa papa sama mama udah enggak sayang lagi sama Mutia?” ucap Mutia
“sayang papa sama mama sayang banget sama Mutia” ucap bu Lusi
“terus kenapa?” ucap Mutia melihat sekitarnya
“apa karena Tiara enggak ada? “ ucap Mutia yang memang dia tak melihat tiara
Semuanya hanya terdiam
“jawab, papa sama mama lebih sayang sama Tiara” seru mutia
“cukup Tia, jangan kamu bicara yang enggak2 tantang adik kamu” ucap pak bramantyo
“kenapa? Sampai kapan papa akan membanggakan gadis itu” ucap mutia marah
“sampai papa menyusul Ara, papa akan tetap bengga dengan dia” ucap pak bramantyo menAngis
“mutia, seharusnya kamu berterima kasih sama adik kamu” sahut dokter
“kenapa sih semua harus Tiara2 dan Tiara” ucap mutia kesal
“Cukup Tia, tanpa ketulusan adik kamu, enggak mungkin kamu melihat lagi” ucap bu Lusi yang mulai habis kesabaran
“maksud mama?” tanya mutia
“mutia, tiaralah yang sudah mendonorkan matanya untuk kamu, dia rela kehilangan nyawanya asal kamu dapat melihat lagi” jawab dokter
“jadi tiara.....” ucap mutia menAngis
“kamu sekarang baru sadar Tia kalau ara begitu Tulus sayang sama kamu” ucap pak bramantyo
“Araa,, ma’afkan aku” tAngis mutia menyesal
“ini ada surat untuk kamu dan keluarga kamu mutia” ucap dokter memberikan secarik kertas


Dear my sister,,,
Ka Tia ma’afkan Ara yang sudah mengambil kasih sayang papa dan mama, Ara tak pernah bermaksud untuk merebut mereka dari kak Tia,
Ara senang waktu itu ara diangkat sebagai bagian dari keluarga Bramantyo, apalagi Ara tahu kalau Ara punya saudara kayak Kak Tia,

Bahkan kebahagian Ara bertambah ketika Ara benar2 anak kandung Bramantyo, itu artinya Ara adalah adik kandung kak Tia,
Itu adalah kebahagian yang Ara rindukan selama bertahun2 kak,

Tapi Ara nyesel karena Ara telah membuat Kak Tia sedih dan marah akan kehadiran Ara ditengah2 kalian,
Maka Ara memutuskan untuk pergi dari kehidupan kalian, tapi Ara merasa begitu tak tahu terima kasih kalau Ara tiba2 pergi gitu aja tanpa membalas kebaikan kak Tia dan papa sama mama,

Semoga dengan apa yang Ara lakukan untuk terakhir kalinya bisa membuat kak Tia mema’afkan Ara dan mengakui Ara adik kak Tia,
Ara akan selalu ada dihati kak Tia, papa sama mama,

Terima kasih buat kalian semua, karena telah menjadi keluarga dan memberikan kasih sayang yang selama hidup Ara begitu Ara rindukan,
Ara sayang kak Tia, papa sama mama,
Selamat tinggal,
Tiara
“Tiara adik Kak Mutia, sampai kapanpun Ara tetap adik kak Tia” ucap Mutia menAngis
“terima kasih kak Tia, Ara sayank kalian” ucap Ara yang hadir ditengah2 mereka dengan berupa bayangan
Bayangan Ara tersenyum dan menghilang,,,


Sabarlah lintang
“ cepat masuk kamar, jangan keluar sebelum ibu izinkan!”
Setiap hari suara itu terdengar menggema mengisi ruangan rumah lintang, Terkadang suara itu membuat kepala lintang seperti mau pecah. Ia bosan, geram, namun tak bisa berbuat apapun, hal inilah yang membuat lintang cenderung menyendiri. Diayunda hampir tak kuasa menghadapi kekerasan hati ibunya. Namun di satu sisi lintang sadar bahwa apa yg dilakukan ibunya, bu tresno, menunjukan bahwa ibunya menginginkan diayunda kelak menjadi orang yg sukses. Tapi yg disayangkan lintang, mengapa sepertinya tidak ada cara lain kecualimengurung diayunda di kamar hanya untuk trus belajar setiap hari.
            Salah satu akibat telalu banyak membaca, lintang yg kini baru menginjak kelas 9 sd harus mengenakan kacamata yg cukup tebal. Badannya yg sudah sdikit kurus dan barambut panjang kini ditambah lagi dengan hiasan sebuah kacamata tebal. Kata dokter, matanya minus empat. Hanya nilai-nilai yg baik dan pujian dari teman- temannya yg bisa sedikit mengibur dan melebur laranya itu. Kini, lintang bukan saja harus menghadapi ibu yg super galak, tapi ia juga harus menghadapi sebuah penyait kanker darah yg kapanpun dan dimanapun dapat menidurkan diayunda untuk selamanya.
            Setahun telah berlalu, kini Lintang tela duduk di bangku SMA. Berkat keteunannya dala belajar dan kesungguhan bu Tresno dlm mendidik anaknya, lintang menjadi salah satu siswa yg teladan disekolahnya. Apapun yg diminta lintang asalkan untuk kepentingan belajar dan kesehatan pribadi lintang, bu Tresno pasti mengabulkannya.
            Di SMA, Lintang seperti menganal dunia baru. Diayunda merasa sulit bergaul, tak seberapa banyak teman yg ia miliki. Akibatnya, Lintang hanya berdiam diri di rumah, walaupun selalu ada dorongan untuk keuar rumah bemain dengan teman sebayanya. Tersirat rasa iri dalam hatinya, ketika ia melihat teman-temannya yg tampak selalu bergembira, seperti tak ada beban
***

            Di sisi lain, bu Tresno merasa puas ia merasa cara yg digunakannya merupakan cara yg jitu untuk menjadikan anaknya cerdas dan sukses. Di  yg tidak diketahui ibunya, Lintang adalah seorang yg ambisi atas prestasi. Tak jarang Lintang menanis karena mendapatkan hasil yg kurang sempurna.
Lintang juga dikenal sebagai seorang kutu buku dan pelajar nomor wahid di sekolahnya. Sayang, teman- temannya tidak mengetahui  bahwa  dibalik kesuksesannya it, Lintang adalah orang yg sensitif suatu ketika mudh bersemangat, namun seketika juga hilang semangatnya, lalu putus asa.
            Sikap lintang yg berbeda dari teman-temannya, ternyata menarik perhatian Andika, ketua OSIS di sekolah Lintang. Di sela-sela waktu istirahat hanya untuk sekedar menannyakan kabarnya. Andika tidak peduli walau diayunda telah kelas 3, sedangkan Lintang masih duduk di kelas 1. Andika merasa bahwa Lintang adalah sosok yg tepat dijadikan sahabat dan perlu sebuah motivasi. Lintang juga merespon perhatian yg diberikan Andika kepadanya dengan baik, karena di mata Lintang Andika adalah sosok yg jujur, pintar, dan berkepribadian yg dewasa, motivasi yg diberikannya juga sangatlah cukup membahagiakan Lintang.
            Hari terus berlalu, Lintang kini telah menginjak umur 16th. Pengalamannya mengahdapi berbagai cobaan bertubu- tubi membuatnya semakin cerdik dalam berbicara. Kemampuannya beragumen membuat kagum guru-guru dan temannya, sehingga mereka menunjuknya menjadi ketua kelas. Kedekatan Lintang dan Andika ternyata melahirkan jutaan perasaan di hati Lintang, bahkan terkadang ia sedikit berdebar  jika bertatapan dengan andika, sementara andika telah menganggap Lintang seperti adiknya sendiri. Demikian perhatian Andika kepada Lintang sangat besar. Sebagai contoh, pada Ulang tahun Lintang ia rela mengambil tabungannya untuk membeli sebotol madu dan sebuah diary sebagai hadiah ulang tahun lintang.
            Atas kehendak Allah SWT, madu tersebut ternyata seperti sebuah mukzizat bagi Lintang. Setelah menggunakan madu tersebut sebagai obat mata, mata lintang mulai membaik. Bukan main gembiranya Lintang, ingin rasanya ia memberi hadiah untuk Andika sebagai ucapan terima kasih. Namun andika menolaknya, baginya kegembiraan Lintang sudah cukup baginya.
            Ternyata  kedekatn Lintang danAndika tidak disukai oleh ibunya Lintang, dengan alasan kedekatan Lintang dan andika hanya akan meracuni konsentrasi belajar lintang. Sedangkan jerih payah andika untuk membelikan obat untuk Lintang, dianggap bu Tresno hanya sesuatu yg kebetulan. Malah sebaliknya bu Tresno menuduh Andika memiliki maksud buruk dibaliknya. Dengan berbuat baik kepada Lintang, dianggapnya akan dapat mengambil hati dan memeras hartanya, karena Andika memang bukan berasal dari keluarga yg mampu seprti Lintang.
“ lintang !!, dari mana saja kamu” tanya bu tresno dengan nada tinggi
“bermain dengan teman, bu” jawab lintang gugup.
“ berani kurang ajar kamu. Ibu menyuruh kamu untuk belajar! Bukan bermain. Pasti kamu bermain dengan Andika? Hei!Lintang dengar!! Ibu tidak mau melihat kamu bermain dengannya lagi ! Camkan itu !”
            Lintang kaget bukan kepalang, hatinya berkata dan memohon kepada illahirabbi. “ ya allah apalagi cobaan yg engkau berikan kepadaku” ujarnya dalam hati. Tak terasa airmatanya jatuh meleleh dipipinya  disertai isak tangis ia berkata “ tapi bu...”
“ sudahlah tak ada tapi-tapian. Cepat masuk kamar!!” bentak bu tresno dengan wajah marah dan mata memerah.
            Dengan berat hati Lintang melangkah ke kamar. Direbahkan tubuhnya ke tempat tidur, hatinya pilu, bantalnya pun terbasahi oleh airmatanya.  Lintang menyesali nasib g menimpanya seolah kehadirannya di dunia bagai insan yg harus menanggung derita sepanjang hayat. Perlahan ia bangkit, merapikan rambut dan perlahan melangkah mengambil sapu tangan dan menghapus airmatanya. Sebentar kemudian ia telah berdiri di depan cermin, seolah ingin memastikan seperti apa wajahnya.
            Tiba-tiba kepalanya pusing, berat dan nafasnya pun terasa sesak. Dengan meringis menahan sakit, ia menoba memegang kepalanya. Darah segar pun mengalir melalui hidungnya. “astagfirullah”, dia menatap wajahnya yg pucat dan dihiasi dengan darah yg mengalir, Lintang terkejut. “ya Allah, ada apa dengan diriku ini??”. Cept cepat ia membersihkan darah yg ada di hidung dan sekitar bibirnya. Dengan nafas yg masih terengah-engah, ia duduk di ranjang memikirkan kejadian yg menimpa diayunda. Beberapa saat kemudian ia baru sadar akan penyakit yg dideritanya. Ia pun besujud dan meminta kepada Allah
“ ya allah, engkau maha pengaih, berilah aku kekuatan, berikan aku kesehatan, dan izinkan aku beribadah kepadamu di bumi ini ya Allah.”
            Keesokan harnya Lintang tak memberitahukan kejadian semalam kepada kedua orangtuanya. Ayahnya yg seorang pembisnis selalu sibuk dan hampir tidak tahu kondisi Lintang saat ini ataupun sikap bu Tresno terhadapnya. Lintang khawatir jika ia ceritakan kedua orangtuanya akan bermusuhan. Apa yg dialaminya hanya diceritakan kepada Andika. Mendengar ituandika terkejut, mereka pun langsung menuju Rumah sakit untuk memerikasa kondisi lintang. Soal biaya, Lintang cukup mengeluakan tabungan yg ia punyai.
            Oh.. ternyata dari hasil observasi dokter, Lintang dinyatakan harus KEMOTERAPI, karena dengan kemoterapi tidak hanya memberantas sel kangker saja tapi juga memperbaiki darah pada sumsum tlang belakang. Lintang sangat ketakutan, perlu waktu untuknya menimbun kekuatan dan keberanian untuk meakukannya. Sementara itu andika terus menerus menyarankan agr Lintang berbica terus terang kepada buTresno. Namun saran itu tidak pernah diturutinya, Lintang bersikeras tidak mau melakukannya.
            Kondii ini tidak menyurutkan semangatnya, sebagai seoang yg berjiwa senia ia tetap sibuk aktif mengikuti lomba vokal dan baca puisi. Di hari ulang tahun sekolahnya, diadakan kegiatan lomba membaca puisi, melihat kesempatan itu tentu saja tidak ia sia-siakan. Berhari-hari ia berlatih membaca puisi, semangatnya membara, konsentrasinya terpusat penuh kepada satu tekad yaitu diayunda harus menjadi juara. Di hari lomba ia telah mempersiapkan segalanya. Langkah kakinya menapaki pangung gtuk belaga, dengan segala ekspresi jiwnya, Lintang tampil memukau, penonton yg hadir di tempat itu terkesima dengan segala ekspresi lintang. Mereka semua terdiam. Naamun, di tengah kekhsyukan lintang sedang berekspresi membawakan puisinya, tiba-tiba kepalanya terasa pusing, persis seperti kejadian di depan cermin kamar. Intonasinya menjadi kacau tak beraturan, keadaan seperti itu membuat penonton heran. Apalagi setelah darah segar kembali keluar dari lubang hidungnya. Beberapa detik kemudian, bait- bait puisi yg keluar dar bibirnya terhenti, ia tersungkur pingsan dia ats panggung.
            Melihat keadaan itu, andika yg menyaksikan penampilannya tiba-tiba berlari, dan meloncat ke atas panggung, dan membalikan tubuh lintang dengan tangan bergetar.
‘lin, sadarr lin !!”
“ toloobg !!!”
            Andika segera mengangkat tubuh Lintang, membopongnya dan membawanya lari. Guru-guru dan penonton pun kaget melihat Andika yg sedang membopong Lintang. “ andika tunggu!” teriak kepala sekolah. Andika tetap bergeming, dengan penuh tenaga dibpongnya Lintang enuju rumah sakit, hingga ada sebuah kendaraan yg ia paksa berhenti bersedia mengantarkannya ke rumah sakit di kotanya.
            Setelah sampai, Lintang langsung dibawa ke ruang emergrncy. Sementara itu andika tersungkur lemas karena kelelahan seusai berlari membawa tubuh lintang. “ aku, harus menelpon bu tresno,”. Pikiran taktis melintas dalam otak cerdasnya. Mendengar kabar dari andika, di seberang telepon bu Tresno bagaikan disambar petir, secepat kilat ialangsung menuju rumah sakit.
            Tak berapa lama bu Tresno pun datang
“ ada apa dik??, ceritakan sejelasnya kepada ibu!’ ujarnya panik, kepada Andika yg masih lesu dengan baju basah dengan keringat.
            Andika segera membuang pandangan kosongnya akibat shock, ia sadar bahwa bu Tresno harus tahu segalanya. Mulai dari A hingga Z, Andika pun mengutarakan semuanya. Sementara itu, guru-guru dan kawan-kawannya juga mencari tahu kemana Lintang dibawa oleh Andika. Setelah menghubungi handphone andika dan mengetahui bahwa mereka ada di rumah sakit, kepala sekolah dan lainnya pun segera menyusul kesana. Dalam waktu 1 jam mereka telah berkumpul semua di rumah sakit ditambah pak tresno dan kerabat dekatnya.
            Mereka  semua terhenyak kaget saat dokter keluar dari ruangan itu. Dokter yg juga berkacamata minus 3 itupun menjelaskan kondidi penyakit Lintang yg sudah cukup parah. Katanya sekarang lintang sedang diinfus, dokter juga menyarankan untuk melakukan kemoterapi secepatnya.
“ tapi apa sebabnya dok??, mengapa nanak saya bisa sakit separah itu??”
“mungkin kondisi batin anak ibu yg tertekan atau kelelahan akibat kegiatan-kegiatan yg ia lakukan. Kurang istirahat sehingga bibit kangker dalam tubuhnya semakin menggerogoti bagia- bagia ntubuh Lintang”.
            Mendengar semua itu, bu tresno tersadar. Ada penyesalan yg mendalam dalam diayunda. Ia meras diayundalh yg menyebabkan ketegangan dalam diri Lintang. Langkah yg menurutnya akan membahagiakan Lintang ternyata malah berbalik menyiksa anaknya sendiri. Lintang yg saat ini menjadi korban ambisi ibunya, tebujur kaku tak sadarkan diri. Entah apa imbalan yg dapatkan, jiwanya tak pernah bebas, batinnya tak pernah berhenti menjerit, selalu dirundung malang sepanjang hatyatnya. Keringat hasil jerih payahnya seolah hanya disuguhkan utuk ibunya yg tak pernah peduli dengan keadaanya.
                                                       
*****

CINTA SEJATI
Gerimis malam itu masih saja belum reda. Tari tetap saja menanti berhentinya kereta api di stasiun Gambir, menunggu kepulangan Erick yang selalu dia nantikan suara lembutnya. Dia sangat rindu pada temannya dan rindu itu dirasa amat menyekam setelah hampir satu tahun ini mereka terpisah pada jarak. Erick berkuliah di yogyakarta sedangkan Tari sendiri meneruskan kuliahnya di Jakarta.

Kereta api sudah berhenti dan penumpang berhuyung-huyung turun. Matanya sibuk mencari Erick diantara kerumunan orang berlalu-lalang. Namun sayang tak dia dapati Erick di sana. Janjinya untuk datang menemui Tari dirasa hanya janji belaka. Kesetiaannya menunggunya di stasiun selama dua jam berlalu begitu saja. Amat dingin diarasa udara malam itu, tapi hati dialah yang lebih merasakan dingin. Mimpinya yang saat itu akan dia rasakan pelukan hangat Erick serasa melayang jauh bersama sepinya stasiun.

“mav lama ya nungguin q”, Tari berbalik arah. Matanya melotot terkejut melihat Erick telah berdiri di depannya seraya menunjukkan senyum manisnya. Tari hanya tersenyum haru dan semenit kemudian dia segera merangkul Erick, melepaskan kerindukannya pada Erick selama ini.

        “Kamu membuatku hampir menangis Lul” ucap Tari di sela isakan tangisnya.
        “Bukan hampir tapi emang sudah kan?” canda Erick. Tari memukul kecil dada Erick. Merasa haru sekaligus bahagia. Abim hanya tertawa kecil dan mendekapku erat.
        “kita pulang yuk..” ajak Erick.

Tari termangu sesaat. Kecupan lembut yang begitu dia rindukan tak dia dapati saat itu. Sikap Erick yang selau kaku tetap dia dapati meski telah satu tahun mereka  terpisah pada jarak. Erick bukanlah tipe cowok romantis. Erick adalah cowok tegas dan bijaksana yang tak pernah memberinya belaian lembut kecuali dengan canda dan leluconnya. Namun begitu Tari selalu sayang dan cinta dia. Dia sendiri yakin bahwa Erick juga mencintainya. Buktinya selama lebih tiga tahun mereka pacaran tak sekalipun Erick menyakiti Tari. Erick selau membuatnya tertawa diantara nada-nada humornya. Selama mereka pacaran cuma sekali Erick mencium Tari ketika ia ulang tahun dan itupun juga di kening.

        “Heh..kok ngelamun sih, pulang yuk.” Kata Erick mengagetkan Tari. Tari mengangguk pelan
dan membiarkan Erick menggandeng tangan Tari. er
        Satu jam telah berlalu sia-sia. Erick tak kunjung datang malam itu sesuai janjinya untuk menemui Tari di taman. Tari hanya sabar menunggu meski setiap menit malam itu dia rasakan penuh dengan rasa iri ketika melihat pasangan yang lain tengah memadu kasih. Romantis sekali. Dia jadi teringat akan kata-kata Ikfi tadi siang yang membuat perasaannya bimbang.
        “menurut ku pacaran tanpa belaian dan ciuman itu ibarat makan tanpa lauk, kurang lengkap.” Ceplos Ikfi mengomentari Tari ketika ia menceritakan tentang sikap Erick selama mereka pacaran. Mendengar komentar Ikfi, Tari hanya tertunduk.
        “Coba kamu pikir selama kamu pacaran apa yang sudah Erick kasih ke kamu. Cuma kasih sayang? Itu kurang non, apa kamu cukup puas dengan ngerasain kasih sayang itu dan apa kamu sudah pernah dapat wujud dari kasih sayang itu?”
        “maksud mu?”tanyaku tak mengerti.
        “misalnya kalau dia apel dia ngasih setangkai mawar buat kamu atau setidaknya dia mencium kening mu sebagai ungkapan dia sayang dan cinta sama kamu”
        “Erick memang tidak pernah melakukannya Fi…” kata Tari datar.
        “Lha terus kenapa kamu betah. Cowok nggak romantis gitu kenapa masih kamu pertahankan. Bisa makan ati tahu nggak! Boro-boro kamu dibelai, dipegang saja tidak. Menurut ku cowok seperti itu tidak bisa menghargai arti cinta. kamu benda hidup Yun, yang kadang juga ingin disentuh, tapi sayangnya kamu bego jika harus rela menyerahkan hati mu pada dia.” ucap Ikfi panjang lebar yang selalu mengiang-ngiang di telingaku.

“Apa benar kata Ikfi? Entahlah aku sendiri tak mengerti. Kadang aku sendiri sempat berfikir apa benar Erick mencintaiku, karena selama ini Erick tak sekalipun membelaiku ketika dia apel. Hatiku benar-benar sakit mengingat itu semua. Erick bukanlah tipe cowok romantis yang selau kuimpikan, Erick yang selau bersikap biasa bila bersamaku dan anehnya semua itu kujalani begitu saja selama tiga tahun lebih, bukan waktu yang singkat memang, karena itu aku selalu berusaha menepis jauh-jauh kegundahanku soal cowok romantis.”
Tapi tidak dengan malam itu. Ketidaksabaran Tari menunggu Erick yang molor datang membuat dia semakin yakin kalau Erick tidak menyayanginya ataupun mencintainya. Hubungan itu hanya sebagai hubungan berstatus pacaran tapi tanpa cinta. Meskipun tiga tahun yang lalu Erick resmi mengikrarkan cintanya pada Tari.
        “Kamu lama ya menugguku? Maaf mobilku mogok tadi” kata Erick menghentikan niat Tari yang ingin meniggalkan taman saat itu juga.            
        “Tidak ada alasan lain?” Tanya Tari sinis. Erick menatap dia dengan janggal.
        “Kamu marah Ta?”, tanya Erick datar.
Tari hanya acuh tak acuh. Tari ingin tahu bagaimana reaksi Erick jika melihat dia marah. Tari ingin Erick mengerti apa yang dia iginkan, menjadi cowok romantis itulah mimpinya. Tidak seperti saat itu. Tari dan Erick duduk dalam jarak setengah meter. Tidak dekat dan mesra-mesraan seperti pasangan lain malam itu.
        “Ta maafin aku, tapi mobilku emang tadi mogok.”
        “Kamu kan bisa telepon atau sms aku Lul, bukan dengan cara membiarkanku menuggumu kayak gini.”
        “Aku lupa bawa Hp Ta.”, ucapnya pelan. Aku tetap tak mengindahkannya.
        “Kamu tahu tidak Lul, malam ini aku semakin yakin kalau kamu memang tidak pernah serius mencintaiku” papar Tari tersendat.
        “Ta kenapa kamu bicara seperti itu. Apa kamu kira selama tiga tahun lebih kita pacaran aku hanya iseng saja. Aku pikir kamu bisa paham tentang aku, tapi nyatanya…”
        “Ya aku memang tidak paham tentang kamu. Kamu yang kaku dan beku bila di sampingku yang tidak pernah membelaiku dan mengucapkan kalimat-kalimat indah di telingaku. Kamu yang cuma sekali mencium dan berkata aku cinta kamu. Kamu yang tidak memberiku perhatian-perhatian romantis selama ini. Kamu..kamu Lul membuatku muak dengan semua ini”, kata Tari dengan nada tersendat.    
Mata Tari telah tergenang air hangat dan dia sunguh tidak sanggup lagi membendungnya.    
        “Jadi kamu pikir cinta cuma bisa diungkapkan dengan keromantisan Ta, kamu kira apa hubunga kita terjalin tanpa rasa apa-apa dariku?”, tanya Erick.
Tari masih terdiam bisu dalam tangisnya.
        “Ta..selama ini aku mengira kamu sudah mengerti banyak tentang aku, tapi ternyata aku salah. Kamu bukan Tariku yang dulu..”
        “Kamu memang salah menilai aku dan akupun juga salah menilai kamu. Menilai tentang hatimu dan tentang cintamu selama ini”
        “Perlu kamu tahu Ta aku sangat mencintaimu dan sayangnya rasa cintaku ini harus kamu tuntut dengan keromantisan”
        “Aku tidak bermaksud menuntut Lul, aku cuma ingin hubungan kita indah seperti orang lain”
        “Wujud dari keindahan itu bukan terletak pada keromantisan Ta tapi terletak pada cinta itu sendiri. Aku tidak pernah membelai dan menciummu karena aku menghormati cinta kita. Aku tidak ingin hubungan kita menjadi ternoda dengan hal-hal yang dimulai dari belaian ataupun ciuman. Aku sayang kamu dan dengan itulah aku bisa buktikan seberapa dalam aku mencintaimu”
Dada Tari berdesir seketika. Segera dia tatap mata teduh Erick. Disana ia dapati keteduhan cinta dan kasihnya.
        “Ta…jika kamu anggap cinta cuma bisa dinyatakan dengan sentuhan-sentuhan keromantisan itu salah. Cinta bukan cuma itu saja. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menjaga hubungan suci itu tetap suci sampai kita benar-benar terikat pada hubungan yang halal. Selama ini aku kira kamu bisa mengrti itu semua. Tapi aku salah dan untuk itu aku minta maaf jika aku tidak bisa menjadi seperti apa yang kamu mau”
        “Lul aku cuma..”, ucap Tari tak terteruskan.
Ada rasa sesak yang keluar begitu saja di hatinya. Tari telah melukai Erick dan itu bisa ia lihat dari kalimat datarnya.
        “Kamu tidak salah Ta dalam hal ini. Dan sepautnya aku melepaskanmu malam ini, membiarkanmu mencari cowok romantis seperti harapanmu. Jangan kamu kira aku tidak pernah mencintaimu, karena itu membuatku terluka. Jujur selama hidaupku aku tidak pernah memikirkan gadis lain selain dirimu”
Bersaman kalimat itu Erick berlalu meninggalkannya. Entah…kenapa bibir Tari tak mampu mencegah langkah Erick. Semua ia rasa bagai mimpi. Hanya dengan satu kesalahan ia buat semua berakhir dalam sekejap. Air matanyapun sudah mengalir deras. Seharusnya ia bangga memiliki Erick yang tidak pernah neko-neko. Seharusnya aku tidak mendengarkan pendapat-pendapat Ikfi tentang cowok romantis. Seharusnya aku tidak membuat Erick terluka saat itu.


        Kereta api di stasiun depok sudah berangkat dua menit setelah ia tiba di sana. Tari berlari kesana-kemari memanggil-manggil nama Erick dari jendela satu ke jendela lain. Namun usahanya itu tanpa hasil. Kereta api dengan perlahan telah membawa Ericknya dan juga cintanya pergi jauh. Tari berdiri terpaku melihat kereta api yang kian menjauh. Sesalnya menumpuk. Tari datang terlambat hingga tidak sempat mengatakan maafnya pada Erick.
        Kini Tari mulai sadar bahwa tidak ada yang lebih bisa membahagiakannya kecuali dengan kehadiran Erick. Bagaimanapun dia, romantis ataupun tidak dialah orang yang benar-benar ia cintai. Kenangan-kengan indah bersamanya walau tanpa kemesraan saat itu membelainya dengan rasa yang teramat. Asanya telah pergi dan itu cuma bisa ia lakukan dengan menangis terpaku di tempatnya berdiri. Hidupnya tiada arti tanpa Erick, dengan mencintainya apa adanya itu sudah lebih dari cukup. Tidak ada lagi tuntutan untuk dia berubah menjadi Erick yang romantis. Rasa sesal telah membuatnya menyimpan permintaan maaf untuk Erick.
        Sampai dadanya tersentak merasakan tangan seseorang meraih bahunya Tari. Ia menatap tajam wajah itu. Mata teduh yang selalu membuatnya merasa damai jika didekat Erick. Kelebutan jiwanya senantiasa menyuguhkan warna indah dalam memori dan sungguh tidak ada yang lebih romantis selain Erick….

kj
gadis senja

Senja pertama.
Aku menyelonjorkan kakiku di teras depan. Hari ini baru saja aku pindahan dari kost lamaku. Sudah lama aku ingin pindah tapi baru kali ini niatku terlaksana. Kost lamaku cukup jauh dari kampus sehingga aku harus menghabiskan hampir lebih dari satu jam perjalanan setiap hari untuk pulang pergi ke kampus. Meski begitu, kost baruku ini tidak lebih baik dari yang sebelumnya. Aku harus berbagi ruangan sempit ini dengan dua orang kawanku. Tidak betah rasanya berlama-lama di dalam sana. Aku lebih senang seperti ini. Duduk selonjoran di teras, hanya berkaus oblong sambil kipas-kipas. Nikmatnya…
Kampusku ini cukup dekat dengan bandara. Aku bisa melihat pesawat terbang rendah di atas kepalaku. Pesawat-pesawat itu sudah seperti nyamuk saja, mondar mandir setiap saat tanpa peduli padaku yang sedang istirahat. Saat aku mendongakkan kepala, mencari pesawat terbang yang gemuruhnya memekakkan telinga, tatapanku terpaku pada sosok di atas sana. Di loteng kost yang berdampingan dengan tempatku. Aku tak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena terhalang oleh rambutnya.
Senja ke-5.
Sore ini, seperti biasa aku melihat gadis itu duduk di loteng kostnya. Rambut hitam panjangnya selalu seperti itu. Menutupi sebagian wajahnya. Hingga sat ini aku tak tahu pasti tempat apa itu. Siapa pula yang mengizinkanku masuk ke dalam sana? Bahkan jika aku sekedar berdiri di depan garasi mereka pun bisa menimbulkan tanda tanya besar. Siapakah dia? Apa hubungannya dengan penghuni kost ini? Mungkin begitulah yang akan mereka pikirkan. Aku? Aku adalah aku. Hubunganku dengan mereka? Tidak ada. Aku hanya tetangga baru mereka sekitar empat hari yang lalu. Kostku hanya dua langkah dari tempat mereka tinggal.
Ngomong-ngomong soal gadis yang duduk di loteng itu, aku selalu penasaran terhadapnya. Aku penasaran apa yang ia lakukan di sana setiap sore. Selepas adzan Asar hingga terdengar suara orang tadarus dari mesjid kampusku yang berarti sebentar lagi waktu Magrib tiba. Tak ada yang istimewa memang. Menurutku ia tidak begitu cantik. Ya, karena ‘bagiku’ orang cantik itu akan terlihat tetap cantik walau dilihat dari ujung dunia sekali pun. Jangan protes! Sudah kutegaskan ini hanya menurut pendapatku.
Hari ini pengamatanku terhadap aktivitasnya cukup mengalami kemajuan, meski hanya satu langkah. Ternyata ia sedang membaca buku. Aku tak tahu secara persis apa judul buku tersebut. Lebih tepatnya aku tak mau tahu. Tidak penting. Setelah kupikir-pikir tak ada yang istimewa juga. Memang menurut kalian apa yang akan dilakukan oleh seseorang yang bengong di atas loteng selain baca buku-atau pura-pura baca buku? Sepertinya tidak ada.
***
Seharusnya hari ini tepat menjadi senja ke-10 aku melihatnya termenung di atas sana. Eh, jangan salah sangka dulu! Aku tidak pernah menghitungnya secara sengaja. Aku hanya mengikuti perhitunganku tinggal di kost baru ini. Bukankah sepuluh hari sudah aku tinggal di sini -bersama dua orang kawan karibku? Tapi hari ini cuaca sedang tidak bersahabat. Hujan deras tak berhenti turun sejak siang tadi. Angin kencang menggoyahkan pohon-pohon pisang di halaman tetanggaku. Bunyi guntur berpadu dengan gemuruh pesawat yang menantang maut di udara. Situasi sangat kacau. Semoga dia tidak sedang duduk di sana-doaku dalam hati.
Senja ke-19.
Aku duduk di beranda kostku lagi. Seperti biasa, dari sana aku bisa melihatnya duduk di atas loteng sambil membaca buku yang tak pernah sama setiap harinya. Kover buku itu selalu berbeda-merah kuning hijau di langit yang biru-upss ngawur, hehe. Aku heran. Sudah lama aku mengamatinya seperti ini, tapi ia tak pernah menyadari-atau memang sengaja tidak peduli? Ah, mengapa aku seperti ini? Mengapa aku malah memiliki kebiasaan aneh seperti dirinya-bahkan lebih aneh? Setiap sore selama dua puluh hari terakhir -kecuali hari ke-10 dan ke-13, karena hujan- aku duduk di sini menunggunya keluar dan ia duduk di atas sana lalu kembali masuk saat muadzin memanggil.
Hei lihat! Ada apa dengan gadis itu? Apakah ia menangis? Perkembangan yang luar biasa dari pengamatanku! Aah, sepertinya bukan. Aku bahkan sudah bisa menebak cerita ini dari awal. Orang yang suka bengong biasanya suka menangis sendiri bahkan tertawa sendiri. Cerita ini sudah tidak menarik lagi. Mengapa harus ada adegan menangis segala sih? Mengapa pula aku peduli?
Saat aku beranjak masuk setelah mendengar adzan berkumandang, aku merasakan sesuatu jatuh di atas pundakku. Aku kira ada cicak jatuh. Jujur, aku paling benci cicak. Untungnya bukan. Itu hanyalah secuil penjelasan.
Senja ke-23.
“Aku ingin bertemu dengan dia.” Ucapku takut-takut.
Bagaimana tidak takut? Lima pasang mata serentak menghujamkan tatapan seramnya di mataku. Kuterka-terka arti dari masing-masing tatapan tersebut. Sepasang mata di ujung kanan menyiratkan kewaspadaan-hei memangnya aku ini mau maling apa? Dua pasang mata di sampingnya menatapku tanpa berkedip, seolah ingin menelanjangiku dari ujung kaki hingga rambutku dengan sorot tajamnya. Dua pasang mata berikutnya hanya tatapan ingin tahu dan minta penjelasan-mau apa datang kemari? Sepasang terakhir? Uh, sepertinya ia tidak sedang memperhatikanku. Ia malah sibuk dengan entah tablet, pil, kapsul atau apalah namanya. Mungkin hadiah terbaru sang kekasih atau hasil rengekan kepada maminya seperti anak kecil yang meminta mainan. Ayolah, tentu saja aku tidak serius! Aku bahkan tidak berani memandang mereka-apalagi sampai balas menatap sorot tajam mereka kepadaku.
“Dia siapa?” bentak yang paling ujung kanan-yang mengira aku mau maling.
“Oh-eh aku…dia…” aku malah tergagap.
Duh bego banget sih aku. Mau ditaruh di mana mukaku? Masak baru ditantang lima cewek aja udah KO duluan. Perlahan aku menarik napasku dalam-dalam. Kupejamkan mataku untuk beberapa saat. Uh memangnya sedang mengahadapi siapa aku ini? Hei, kalian pikir gampang menghadapi lima harimau buas di kandang mereka? Ini bahkan lebih sulit dari menghadapi lima harimau itu.
“Aku ingin bertemu dengan temanmu yang biasa duduk di atas loteng.” Ucapku tegas.
Entah dari mana kepercayaan diriku itu berasal. Aku bahkan bisa lebih pede dari kelima makhluk di hadapanku. Memang harusnya seperti itu, kan?
Bulu kudukku merinding. Apakah mereka serius? Mungkinkah mereka sengaja meyembunyikan salah seorang teman mereka? Aku kira seharusnya ada enam orang yang tinggal di sana. Tapi aku dapat melihat dengan jelas ekspresi lima wajah itu. Juga sorot mata mereka. Semuanya menampakkan keheranan dan kebingungan plus mendadak ketakutan. Bukan tatapan galak seperti ketika aku datang pertama kali tadi. Ah, ini bisa membuatku benar-benar gila! Aku kembali membuka lipatan kertas kecil di genggamanku.
-Aku menyukai senja. Aku mencintai merah langitnya. Jangan tanya mengapa karena aku tak punya alasan untuk itu. Aku menangis karena aku bahagia. Aku bahagia karena akhirnya ada seseorang yang peduli padaku. Menyenangkan rasanya jika ada yang perhatian pada dirimu, bukan begitu? Tapi, cukuplah sekedar memperhatikanku dari bawah sana. Jangan pernah kau penasaran terhadapku, apalagi mencariku. Dan mulai saat ini, kau tak perlu lagi menungguku-
Aku mendongakkan kepala ke loteng itu. Lihat! Dia ada di sana. Tidak! Dia tidak sedang duduk. Dia berdiri memandangku dari atas sana. Aku melihat senyum tergurat di bibirnya. Apa? Dia tersenyum? Oh tidak, tidak! Aku mengucek-ngucek mataku tak percaya. Kutarik napasku dalam-dalam dan kembali mendongak. Aku terkesiap. Tubuhku menggigil. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhku. Ibu, dia tidak ada!